Monday, March 16, 2015

Dr. Maurice Bucaille: Dari Memusuhi al-Qur'an Menjadi Pengagumnya.



Dr. Maurice Bucaille: Dari Memusuhi al-Qur'an Menjadi Pengagumnya.*

Oleh Dr. Rifyal Ka'bah, M.A.


Nama Maurice Bucaille saya kenal pertama kali melalui sebuah bukunya  yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan diterbitkan oleh 'Dar al- Ma'arif di Kairo. Buku itu menarik perhatian saya, bukan saja karena ia membicarakan al-Qur'an dari sudut sains modern, terutama ilmu kedokteran, tetapi lebih dari itu karena saya pada saat itu sedang 'keranjingan' belajar bahasa Prancis. Buku tersebut sangat membantu saya membaca naskah aslinya. Saya lalu menerjemahkan beberapa porsi dari buku itu yang berhubungan dengan kedokteran dan diterbitkan oleh sebuah majalah di Jakarta. Ini terjadi sekitar 1978.

Setahun kemudian, yaitu pada pertengahan bulan November, saya berada di Paris untuk suatu urusan akademis. Karena tak seorangpun yang saya kenal di Paris, saya teringat dengan Dr. Bucaille yang saya hanya nama dan melalui bukunya. Saya pun mengirim surat dengan alamat Penerbit Seghers di Paris, penerbit yang menerbitkan bukunya, menerangkan maksud kedatangan saya. Di luar dugaan saya, ia membalas dan menerangkan bahwa ia telah menelpon beberapa instansi untuk melancarkan urusan saya.

Saya sampai di Paris sesuai jadwal. Dari sebuah stasiun 'metro' (kereta api di bawah tanah) berdekatan dengan Masjid Paris, saya menelpon Dr. Bucaille. Maksud saya hanya hendak membuat janji kapan waktu yang tepat saya dapat menemuinya. Tapi mendengar saya di Paris, ia langsung meminta saya untuk datang ke flatnya juga di Marseiles Avenue  Karena tempat itu masih asing bagi saya, saya datang sedikti terlambat, tetapi tidak mengurangi kehangatan sambutannya.

Memasuki ruang kerja di flatnya, objek pertama yang saya lihat adalah potret Raja Faisal dalam ukuran besar dan terpajang di dekat sebuah almari buku. Dalam kata pendahuluan bukunya yang saya baca, ia memang berbicara tentang Raja Faisal yang mengambil prakarsa untuk mempertemukan beberapa petinggi di Vatikan dengan beberapa ulama dari Saudi Arabia. Sungguhpun demikian, saya tidak mengetahui pada waktu itu apa artinya Raja Faisal bagi Dr. Maurice Bucaille.

Ia berterima kasih atas ulasan yang saya buat tentang bukunya di salah satu majalah Indonesia. Walaupun tidak memahaminya, ia mengatakan akan tetap menyimpan kliping yang saya berikan. Ia juga mengatakan baru saja menerima surat dari Prof. Dr. Rasjidi, penerjemah bukunya di Indonesia, yang akan berkunjung pada bulan Desember. Saya menanyakan tentang penerimaan berbagai pihak terhadap bukunya. Menurutnya, sambutan dari ummat Islam sangat luar biasa. Ini terbukti dari terjemahan yang dilakukan oleh ummat Islam ke dalam berbagai bahasa.

Saya tidak jadi meneruskan program yang telah saya pilih karena gagal mendapatkan dukungan finansial, namun saya bersyukur dapat berkenalan dengan Dr. Maurice Bucaille yang telah banyak membantu saya selama saya berada di kotanya. Beberapa bulan kemudian saya tidak lagi mengadakan kontak dengan dokter ahli bedah Prancis ini.

Bulan Desember 1985, saya kembali bertemu dengan Dr. Maurice Bucaille di Indonesia, ketika ia diundang untuk menghadiri Muktamar Muhammadiyah. Kami bertemu di Jokya, Solo dan Jakarta. Bucaille mendapat kesempatan menyampaikan beberapa kali ceramah di ketiga kota di atas. Pada waktu beredar isu-isu, bahwa di samping karya-karyanya yang dipujikan oleh ummat Islam, Bucaille sebenarnya belum lagi menjadi muslim sepenuhnya.

Rupanya, ia sendiri pun mendengar tentang isu-isu itu. Karena itu, ia meminta agar pertanyaan-pertanyaan berhubungan dengan itu jangan ditanyakan kepadanya. Namun seorang guru besar dari Universitas Al-Azhar, Mesir, yang juga diundang dalam kesempatan di atas, menanyakan di depan saya masalah yang sensitif itu. Bucaille tidak menjawab dengan kata-kata, tetapi dengan mengeluarkan kutipan ayat al-Qur'an dari surat Asy-Syura ayat 13 yang telah ditempel rapi pada sebuah kartu kecil seperti KTP dari dalam kantong bajunya. Kutipan, yang dimaksud bahwa agama yang disyari'atkan kepada ummat Islam juga merupakan agama yang dipesankan kepada Rasul-Rasul terdahulu seperti Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan lain-lain itu. Tampaknya sudah disiapkan sebelumnya untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Sebagai seorang alim dari Al-Azhar, guru besar Mesir itu tertawa senang bersama Bucaille setelah membaca kutipan ini.

Saya menceritakan hal itu kepada Dr. Rasjidi. Beliau pun berkeyakinan bahwa Bucaille telah menjadi Muslim sepenuhnya, bukan hanya sekadar kepuasaan ilmiah dan batin seperti diisukan oleh sebagian orang. Namun, kata Dr. Rasjidi, karena keberadaannya setiap hari di lingkungan yang tidak islami, seperti di rumah sakit dan di fakultas kedokteran, barangkali ia tidak ingin dibesar-besarkan sebagai seorang muslim.

Kesan saya tentang Dr. Bucaille timbul kembali setelah membaca akhir-akhir ini pengalaman seorang dokter senior Maroko yang bertemu dengan Bucaille pertama kali pada akhir tahun tujuh puluhan di Paris. Ia adalah Dr. Muhammad T. Al-Hilali dari Casablanca yang menuliskan kesannya dalam periodikal 'Islamic Research Magazine', terbitan Riyadh.

Kesan itu membuka tabir tentang Raja Faisal dalam jalan hidup Dr. Bucaille.

Pertemuan kedua dokter tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan di rumah seorang keluarga 'Murabbithin di Paris. Dr. Al-Hilal menanyakan tentang sebab penulisan buku 'La Bible, le Coran et La Science. Dr. Bucaille menjawab bahwa ia tadinya adalah seorang yang sangat memusuhi al-Qur'an dan Nabi Muhammad. Kepada setiap pasien Muslim yang sembuh yang pernah dirawatnya, ia selalu menanyakan tentang al-Qur'an dan Nabi Muhammad, apakah kitab ini benar berasal dari Allah atau hanya sebagai karangan Muhammad. Ia selalu mengatakan kepada pasien Muslim bahwa Muhammad itu adalah seorang pembohong dan al-Qur'an hanyalah rekaannya sendiri.  Keadaan seperti berlangsung lama, menanyakan persoalan yang sama kepada Raja Saudi Arabia ini. Jawaban Raja Faisal tetap sama dengan jawaban pasien-pasien Muslim yang pernah ia tanya sebelumnya bahwa Muhammad yang pernah ia tanya sebelumnya bahwa Muhammad tidaklah bohong dan al-Qur'an memang berasal dari Allah. Bucaille tetap tidak percaya. Ketika Raja Faisal menanyakan kepadanya apakah telah membaca al-Qur'an, ia mengatakan bahwa telah membacanya, bahkan berkali-kali. Akhirnya berlangsung dialog berikut ini:

Raja Faisal: "Apakah Anda membaca  dalam bahasa aslinya, atau melalui terjemahan?"

Bucaille: "Saya membaca terjemahannya, dan bukan dalam bahasa aslinya."

Faisal: "Kalau begitu Anda mengekor  kepada penerjemah. Penerjemah tidak memilki pengetahuan. Ia tidak meneliti kebenaran, tetapi hanya mempercayai suatu yang disampaikan kepadanya. Penerjemahan tidak kebal terhadap kesalahan dan penyimpangan secara sengaja. Berjanjilah dengan saya bahwa Anda akan mempelajari bahasa Arab dan membaca al-Qur'an dalam bahasa aslinya! Saya berharap keyakinan Anda yang salah ini akan berubah!"

Bucaille: "Saya berjanji! Banyak orang Islam yang telah saya tanya sebelum Baginda, tetapi saya tidak menemukan jawaban pertanyaan saya selain melalui Baginda!"

Bucaille mengatakan bahwa ia meletakkan tangannya di atas di atas tangan Raja dan berjanji tidak akan berbicara tentang al-Qur'an dan Nabi Muhammad kecuali setelah memahami al-Qur'an dalam bahasa Arab. Sejak itu ia langsung menghubungi sebuah universitas besar di Paris untuk mendapatkan seorang guru 'private' bahasa Arab. Ia mendapatkannya. Guru tersebut mengajarkan bahasa Arab selama satu jam setiap hari secara intensif, kecuali Minggu. Akhirnya, setelah pelajaran bahasa Arab sebanyak tujuh ratus tiga puluh pelajaran, lebih kurang dalam dua tahun, Bucaille dapat mendalami al-Qur'an dalam bahasa Arab.

Ia mengatakan: "Saya menemukan al-Qur'an sebagai kitab satu-satunya yang memaksa kaum intelektual untuk meyakini bahwa ia berasal dari Allah, yang tidak ditambah atau dikurangi satu huruf pun...."

Dalam penemuan tersebut hadir seorang dokter muda dari Maroko yang sedang menerima 'training' di Prancis. Ia memberikan komentar tentang ayat 34 surat 'Luqman' yang menyebutkan hal yang hanya diketahui oleh Allah. Ia mengatakan bahwa salah satu dari lima hal tersebut, yaitu bayi yang ada dalam kandungan, telah diketahui hal ihwalnya oleh ilmuwan modern pada saat ini. Mendengar komentar itu, Dr. bucaille langsung bangkit untuk menjawab: "Ini bohong...! Anda menyebut diri sebagai seorang dokter. Ayo, sekarang mengunjungi rumah sakit saya. Saya ingin Anda menceritakan  kepada saya tentang bukti-bukti ilmiah, kalau betul Anda mengetahui?" Mendengar jawaban Bucaille, dokter muda itu terdiam seribu bahasa. Ia sadar telah terlanjur memberikan komentar gegabah. 

Banyak memang sarjana Muslim yang menulis buku dan menemukan sesuatu yang baru tentang hubungan al-Qur'an dan sains modern, namun nama Bucaille mempunyai tempat tersendiri. Hal itu karena ia mempunyai kesempatan yang luas menyampaikan gagasan-gagasannya melalui berbagai ceramah dan seminar internasional, makalah-makalah ilmiah dalam sejumlah publikasi dan buku-buku yang diterjemahkan ke dalam sejumlah besar bahasa; kesempatan yang jarang ditemui selengkap ini oleh sarjana-sarjana lain. Popularitasnya juga karena kenyataan berasal dari latar belakang tradisi Barat/Kristen.

*Tulisan ini dimuat di Koran Harian Republika, Kamis, 1 April 1993.




 

Tuesday, December 2, 2014

Alat Transportasi Modern

Alat Transportasi Modern


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal berlayar di lautan yang bermanfaat kepada ummat manusia, air (hujan) yang diturunkan Allah dari langit yang menghidupkan tanah yang mati, semua binatang melata yang Ia sebarluaskan, dan pengarahan angin serta awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, merupakan bukti (kebesaran) Allah bagi bangsa yang berpikir.” al-Baqarah 164

Di zaman Nabi Muhammad s.a.w. di Arabia pada abad keenam Masehi, alat transportasi yang terkenal adalah onta, kuda, keledai dan kapal layar atau perahu. Semuanya disebutkan dalam al-Qur’an.

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
“Kenapa mereka tidak memperhatikan onta bagaimana ia diciptakan?" Al-Ghazyiah 17

وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ

“(Tuhan) yang telah menciptakan segalanya berpasangan, dan Ia-lah yang telah menjadikan untuk kalian kapal dan binatang dapat kalian  kendarai.” az-Zukhruf 12


وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Kuda, bighal (kuda yang lebih kecil) dan keledai adalah untuk kalian kendarai dan menjadi perhiasan, dan Ia menciptakan apa yang tidak kalian ketahui.” an-Nahl 16

 

Allah menciptakan onta, kuda, keledai dan kapal untuk memudahkan kehidupan manusia. Dengan berbagai alat transportasi konvensional ini, jarak yang jauh menjadi dekat dan keletihan berjalan kaki dapat diatasi. Hal-hal yang memberi kemudahan ini di lain pihak menjadi bukti kepedulian Allah kepada para hamba-Nya. Alat-alat transportasi ini juga melahirkan seni dan estetika yang enak dipandang sehingga menjadi perhiasan hidup.

اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Allah-lah yang telah menjdayagunakan laut bagi kalian supaya kapal dapat berlayar dan supaya kalian dapat mencari karunia-Nya dengan harapan semoga kalian menjadi orang yang bersyukur.” al-Jatziyah 12

Menurut sebagian ahli tafsir kontemporer, ayat surah an-Nahl di atas yang berbunyi:

وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“. . . dan Ia menciptakan apa yang tidak kalian ketahui.” an-Nahl 16


memberi isyarat akan adanya alat transportasi selain hewan tunggangan di masa depan yang belum diketahui pada masa Nabi Muhammad s.a.w.
Pada masa sekarang telah terjadi revolusi alat transportasi yang amat dahsyat. Hewan tunggangan dan kapal-kapal tradisional seperti pada masa lalu memang masih tetap digunakan pada masa ini, tetapi kehidupan modern yang menuntut kecepatan dan ketepatan lebih mengandalkan alat transportasi mobil, kereta api, kapal api dan pesawat terbang. Semua adalah karunia Allah yang telah mengilhami para penemu menciptakan alat-alat ini bagi kemudahan hidup. Mobil, kereta api, kapal api dan pesawat terbang tidak pernah tergambarkan di zaman Nabi Muhammad s.a.w., tetapi sekarang merupakan kenyataan sehari-hari.
Alat-alat transportasi ini telah memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada kehidupan manusia dan sekaligus merupakan kepedulian Allah yang amat besar kepada kehidupan manusia modern. Diharapkan agar manusia modern menyadari nikmat hidup tersebut dan menjadi orang yang bersyukur. Bersyukur dalam konteks ajaran ilahi adalah menggunakan nikmat Allah sesuai dengan tujuan apa nikmat tersebut diciptakan. Alat-alat transportasi ini diciptakan untuk memberi kemudahan dan kenikmatan kepada ummat manusia sesuai dengan tuntunan Allah s.w.t. Dengan kata lain, nikmat tersebut digunakan dalam rangka menjauhi godaan setan dan mendekatkan diri kepada Allah Maha Pencipta.
Berkat kemajuan ilmu dan teknologi, mobil, kereta api, kapal api dan pesawat terbang telah sangat memudahkan kehidupan dan memanjakan bangsa manusia. Banyak juga orang yang tergila-gila dengan hasil teknologi sehingga barangkali ada yang lupa bahwa di belakangnya ada tangan-tangan Allah yang bermain. Ilmu dan teknologi adalah di antara karunia Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya apakah mereka akan beriman atau menjadi kafir, apakah akan bersyukur atau tambah membangkang kepada Allah.
Ilmu dan teknologi transportasi memang tidak mengharuskan seseorang beriman dan bersyukur dalam arti formal. Keduanya adalah bebas nilai. Tanpa iman dan syukur, baik para penemu maupun para pemakainya akan tetap eksis dan bahkan mungkin semakin sinis dan sombong kepada Allah sebagai pencipta mereka. Orang-orang seperti ini telah ada sejak dulu dan akan tetap ada sampai hari kiamat. Hidup bagi mereka barangkali tidak lebih dari sekedar mengambil manfaat dari alat-alat yang mereka ciptakan dan gunakan setiap hari.
Di sinilah perbedaan antara pandangan orang yang beriman dan pandangan orang yang tidak beriman. Bagi orang yang tidak beriman, segalnya dimulai dari sini dan diakhiri di sini, di dunia, tetapi bagi orang yang beriman, kehidupan dimulai dari sini di dunia dan berakhir di sana di akhirat.
Ada awal dan ada akhir. Awal adalah kelahiran dan akhir adalah kematian. Awal adalah ketika Allah Yang Maha Awal menciptakan dunia ini dengan maksud-maksud yang jelas dan akhir adalah kehancuran dunia juga dengan maksud-maksud yang jelas. Allah adalah yang pertama dan terakhir, yang tampak dan tidak tampak, dan Ia Tahu akan segala sesuatu (al-Hadid 3). Semuanya tidak diciptakan dengan percuma. Orang beriman hidup dalam kerangka pemikiran seperti ini. Ia akan mengatakan bahwa semua ini tidak diciptakan dengan percuma, dan ia akan berdo‘a semoga dihindarkan dari sika neraka (Al ‘Imran 191). Inilah yang disebut aqidah atau pegangan kokoh yang membuat manusia tegar dalam menjalani hidup ini.
Orang yang tidak beriman sangat percaya kepada ilmu dan teknologi. Katakanlah dalam bentuk alat-alat transportasi modern seperti yang sedang kita bicarakan. Sewaktu mengendarai mobil, menaiki kereta api, berlayar di atas sebuah kapal, atau terbang dalam sebuah pesawat jet, seorang yang tidak beriman akan sangat percaya kepada kemajuan ilmu dan teknologi. Bila terjadi kecelakaan, misalnya, ia akan segera mengatakan bahwa ini adalah human error (kesalahan manusia). Pertanyaan yang patut ditanyakan di sini, ketika kecelakaan terjadi, apakah semuanya karena kelalaian manusia? Bila memang demikian, kenapa kelalaian itu terhadi hanya pada waktu kecelakaan itu saja? Pengalaman menunjukkan bahwa dari sekian banyak kecelakaan alat transportasi di dunia tidak semuanya menunjuk kepada human error. Banyak sekali penyebab kelekaan yang tidak diketahui oleh ilmu manusia, atau dengan kata lain masih bersifat misterius.
Bila kembali kepada pandangan orang beriman, celaka atau selamat bukan semata urusan manusia. Manusia memang harus mengandalkan ilmu dan teknologi dan harus hati-hati dalam mengurus dirinya dalam kehidupan di dunia ini, tetapi di balik itu ada tangan-tangan Allah yang merancang kehidupan manusia. Ia tidak mungkin celaka atau selamat, kecuali bila itu memang dikehendaki oleh Allah Maha Pencipta. Karena itu, setiap kali berpikir, mencipta, bekerja dan berusaha, seorang hamba beriman melakukannya dengan penuh ketelitian dan profesionalisme, dan setelah itu ia menyerah dirinya kepada Allah melalui do‘a, zikir, ibadat dan usaha mendekatkan diri kepada Allah.
Ummat beriman yang bepergian dengan alat transportasi tertentu, baik tradisional maupun modern, diminta untuk hati-hati dan menyerahkan dirinya kepada Allah. Setelah melakukan tugasnya dengan hati-hati dan profesional, ia berdo‘a kepada Allah s.w.t. Bagaimanapun telitinya manusia dan bagaimanapun canggihnya teknologi yang ia ciptakan, segalanya terserah kepada Allah, apakah ia akan diselamatkan atau akan celaka dalam perjalanannya.

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ0 وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
“Maha Suci (Tuhan) yang telah mendayagunakan (kendaraan) ini untuk kita, dan kita tidaklah mendahuli-Nya. Sesungguhnya kita akan kembali kepada Tuhan kita.” Az-Zukhruf 13-14

Di sini orang beriman menyatakan tentang jati dirinya. Ia butuh kepada ilmu dan teknologi canggih untuk memudahkan hidupnya, tetapi ia lebih yakin akan kuasa Allah yang mengilhami lahirnya ilmu dan teknologi tersebut. Ia bersyukur atas karunia Allah, tetapi juga menyadari keterbatasan ciptaan manusia dibanding ciptaan Allah Yang Maha Agung. Ia sadar bahwa sewaktu-waktu bisa terjadi kesalahan ilmu dan kemacetan teknologi. Karena itu, ia menyerah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Apa pun yang teradi, selama daya dan upaya manusia telah dilakukan, adalah atas kehendak Allah s.w.t. Bila ia dalam kondisi seperti ini, apa pun yang terjadi, itulah yang terbaik untuk dirinya seperti dikehendaki oleh Allah Sang Pencipta.


e

Qur’an Berbahasa Arab

Qur’an Berbahasa Arab

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ
“(Seperti kami telah mengirim rasul-rasul sebelummu), Kami juga telah mewahyukan kepadamu Qur’an berbahasa Arab supaya kamu dapat memberi peringatan kepada Umm al-Qurâ (kota Makkah) dan penduduk sekitarnya dan supaya kamu dapat memberi peringatan terhadap Hari Berhimpun yang tidak diragukan lagi, satu kelompok akan ada di sorga dan satu kelompok lagi akan ada di neraka.” (asy-Syura 7)

Allah Tuhan Maha Kuasa tentu memahami semua bahasa yang digunakan manusia, tetapi Ia menurunkan Qur’an dengan menggunakan bahasa Arab. Kenapa? Itu dilakukan Allah supaya menjadi pemikiran bagi manusia (Yunus 2, al-Ahzâb 37)
Dalam Qur’an juga dinyatakan bahwa setiap rasul penerima wahyu dari Allah selalu menggunakan bahasa nasional rasul yang bersangkutan (Ibrahim 4).

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُم ْ  . .
“Kami tidak mengutus  rasul kecuali dengan bahasa bangsanya agar ia dapat menjelaskan (pesan Kami) kepada mereka ...” (Ibrahim 4)

Tugas rasul adalah menyampaikan pesan Allah kepada manusia, dan bangsa pertama yang menerima pesan tersebut adalah bangsa rasul yang bersangkutan. Tidak masuk akal bila rasul yang bertugas menyampaikan pesan Allah kepada ummatnya harus menyampaikannya dalam bahasa asing. Konsekuensinya, bangsa non Arab yang menerima pesan Islam harus mempelajari bahasa Arab.
Bahasa Arab dikatagorikan sebagai salah satu bahasa Semit, tetapi menurut Organisasi Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Liga Arab, itu hanya sekedar penamaan. Kenyataannya tidak ada bahasa yang disebut bahasa Semit.  Yang ada adalah beberapa bahasa yang saling berdekatan yang diperkirakan dulunya dipakai oleh bangsa Semit pada abad-abad sebelum Masehi. Mereka adalah kabilah-kabilah kuno yang pernah tinggal di Semenanjung Arabia yang menggunakan berbagai dialek lokal seperti Phoenicia (Funisia), Chaldean (Keldania), Assyrian (Siryani), Aramaean (Aramiah), Syrians (Suria), Hebrew (Ibrani) dan Arab Mudhar (bahasa Arab yang berkembang sampai sekarang). Kecuali bahasa Ibrani dan bahasa Arab Mudhar, semua dialek ini sudah menjadi dialek yang mati dan ikut bersaham memperkaya bahasa Arab modern.
Ahli bahasa menyebutkan tentang dua keistimewaan bahasa Arab. Pertama, asal kata dalam bahasa Arab terdiri dari dua huruf, kemudian ia berubah makna melalui penambahan satu huruf atau lebih. Melalui mekanisme penukaran, penggantian dan penambahan huruf, bahasa Arab berkembang menjadi bentuknya yang sekarang. Kedua, bahasa Arab tumbuh dari masyarakat Arabia yang terdiri dari suku-suku dan kelompok-kelompok kecil, berkembang melalui perkawinan antar suku dan kelompok. Dari interaksi berbagai suku dan kelompok ini berkembang bahasa-bahasa yang saling berdekatan sehingga menjadi dalam bentuk bahasa Arab seperti sekarang, atau paling tidak seperti bahasa Arab pada masa Qur’an diturunkan. Semua kata mempunyai akar atau dasar yang disebut mashdar. Setelah itu, ada kata kerja masa lalu, masa sekarang dan akan datang, dan selanjutnya lahir berbagai derivasi yang memperkaya bahasa Arab sebagai bahasa yang hidup. Dengan dua ciri ini, bahasa Arab menjadi bahasa Qur’an yang dipilih oleh Allah untuk menyampaikan pesan-Nya kepada ummat manusia.
Dalam surah ar-Ra‘d 37 dinyatakan bahwa Qur’an diturunkan sebagai hukum berbahasa Arab (hukman ‘arabiyyan). Setelah mengetahui asalnya dari Allah, maka tidak ada alasan bagi Nabi Muhammad untuk mengikuti hukum berdasarkan hawa nafsu (keinginan) manusia, dan bila itu yang dilakukan, maka beliau tidak mempunyai pelindung dan penjaga. Dengan demikian, pengambilan Qur’an sebagai hukum berbahasa Arab dapat melindungi individu dan masyarakat muslim dari segala bahaya yang mengancam.
‘Abdullah Yusuf ‘Ali menerjemahkan hukman ‘arabiyyan dengan a judgement of authority in Arabic (putusan yang mempunyai otoritas dalam bahasa Arab). Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud putusan yang mempunyai otoritas adalah sebagai pemutus masalah benar dan salah dalam semua urusan. Ayat ini bermakna universal dan tidak hanya berlaku bagi bangsa Arab di mana Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka. Sedangkan al-Jalalain menjelaskan bahwa Qur’an diturunkan “dalam bahasa orang Arab supaya kamu dapat memutus perkara di kalangan masyarakat” (lughat al-‘arab litahkum bayn an-nâs).
Jadi, bahasa Arab Qur’an adalah bahasa hukum yang menetapkan kaedah baik dan buruk, salah dan benar, dalam kehidupan manusia dan sekaligus adalah bahasa standard bagi pengembangan bahasa Arab itu sendiri. Bahasa Arab sebagai bahasa yang hidup selalu mengalami perkembangan dengan masuknya berbagai kata dan istilah baru dari bahasa asing atau dari para pemakainya. Dalam menerima kata dan istilah asing ini, maka bahasa Qur’an dijadikan sebagai acuan, baik dari segi gramatika, gaya bahasa, maupun lainnya. Ini memang telah menjadi kebijakan semua negara Arab melalui berbagai lembaga bahasa dan kebudayaan di negara-negara Liga Arab.
Qur’an sebagai bahasa hukum dikembangkan oleh para fuqaha’ yang memahami ayat Qur’an dari sudut hukum. Kajian bidang hukum apa pun selalu dimulai dari teks Qur’an dan teks Hadits yang umumnya berperan menjelaskan Qur’an. Karena itu, kajian hukum dalam Islam selalu berhubungan dengan kajian linguistik. Bahkan sebenarnya kajian semua disiplin ilmu dalam Islam dimulai dari kajian linguistik terhadap teks-teks Qur’an dan Hadits. Dari perkembangan ini kemudian bahasa Arab menjadi bahasa ilmu pengetahuan yang digunakan sebagai media dalam proses belajar dan mengajar serta pengembangan kebudayaan. Ia tidak hanya menjadi bahasa agama dalam pengertian sempit, tetapi telah menjadi bahasa peradaban yang melibatkan berbagai bangsa dan negara. Bahasa Arab juga sudah menjadi salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Perkembangan ini juga terjadi di Indonesia. Sebelum negeri ini mengenal huruf Latin, ia terlebih dahulu telah mengenal huruf Arab. Pertama, kebutuhan kepada huruf Arab adalah untuk membaca Qur’an dan menjalankan perintah shalat yang harus dilakukan dalam bahasa Arab. Untuk itu telah berdiri surau, menasah, langgar dan sebangsanya di seluruh persada Indonesia. Inilah lembaga pertama tempat belajar menulis dan membaca Qur’an dalam bahasa Arab. Setelah itu, berdiri pondok, pesantren dan madrasah yang menyelenggarkan pendidikan yang bersumber dari Qur’an dan Hadits. Bahasa-bahasa daerah, terutama yang tidak mempunyai huruf khusus, menggunakan huruf Arab untuk mengembangkan bahasa tulisan. Secara khusus,  bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia modern, berkembang dengan pesat karena menggunakan tulisan Arab. Inilah yang dikenal sebagai sebagai tulisan Arab-Jawa atau Arab-Melayu. Buku, surat kabar,  majalah, dokumen perjanjian dan lain-lain dalam bahasa Melayu/Indonesia  untuk waktu yang cukup lama menggunakan aksara Arab.
Dengan masuknya aksara Latin melalui pejajah Barat, akhirnya berangsur-angsur aksara Arab menjadi tergeser ke pinggir. Pada tahun lima puluhan dan enampuluhan, di banyak sekolah rakyat di Indonesia masih ada pelajaran menulis dan membaca aksara Arab-Melayu-Jawa, tetapi sekarang sudah menjadi bagian dari sejarah. Sungguhpun demikian, melalui otonomi khusus Propinsi Nangroe Aceh Darussalam, aksara Arab diperkenalkan kembali di propinsi tersebut. Misalnya, semua papan nama instansi resmi, badan swasta, perusahaan dan lain-lain di propinsi menggunakan aksara Arab, di samping penulisan dengan aksara Latin.
Di segi lain, pengkajian bahasa Arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan masih tetap berlanjut sampai sekarang melalui lembaga pendidikan Islam dari tingkat yang paling rendah sampai ke tingkat universitas. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, bekerja sama dengan Universitas al-Azhar di Cairo, sejak beberapa tahun telah menyelenggarakan pendidikan strata satu (S1) dengan menggunakan media bahasa Arab sebagai pengantar. Perkembangan ini juga disertai oleh sebuah lembaga pendidikan menengah dan tinggi di Jakarta dengan nama Institut Ilmu-Ilmu Keislaman dan Kearaban Saudi Arabia (al-Ma‘had as-Sa‘udî li al-‘Ulum al-Islâmiyyah wa al-‘Arabiyyah), yang telah berdiri sejak tahun delapan puluhan. Perkembangan ini cukup berarti, tetapi belum lagi sampai ke tingkat bahasa Arab sebagai bahasa peradaban, atau menjadi bahasa kedua setelah bahasa nasional Indonesia, seperti yang dimainkan oleh bahasa Inggeris.
Menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa peradaban di Indonesia memerlukan waktu dan perencanaan yang matang. Bahasa Inggeris saja sebagai bahasa internasional dan peradaban baru memasuki tahap sangat awal di Indonesia.  Belum banyak lembaga pendidikan dan media massa di negeri ini yang menggunakan bahasa Inggeris sebagai bahasa pengantar, jauh ketinggalan di banding, misalnya, dengan perkembangan bahasa ini di negara-negara tetangga Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Pilipina. Itu pun setelah memasukkan mata pelajaran bahasa Inggeris dari tingkat SD sampai ke perguruan tinggi. Untuk mengangkat peran bahasa Arab sebagai bahasa peradaban, dan tidak hanya bahasa agama dalam pengertian sempit, upaya-upaya yang telah dilakukan oleh masyarakat dan negara dalam pengembangan bahasa Inggeris di Indonesia juga harus ditempuh untuk pengembangan bahasa Arab. Upaya-upaya seperti itu patut dilakukan, karena bahasa Arab tidak hanya bahasa nasional bangsa-bangsa Arab, tetapi juga bahasa internasional ummat Islam, apa pun kebangsaan mereka.
&



Wednesday, February 17, 2010

The Principles of Religious Freedom in Islam

The Principles of Religious Freedom in Islam

By Rifyal Ka‘bahÒ

The term “religious freedom” is unknown in the sources of Islam. It was introduced officially through a document of the United Nations Organization in 1948, called the Universal Declaration of Human Rights. It was said that the religious freedom is one of the basic principles of human rights. The Universal Declaration of Human Rights as a matter of fact is not something new at all in the history. The same principles or the similar ones were contained in the Bill of Rights of the United States and whithin the constitution England there was Magma Charta and also in the teachings of European Philosophers such as Lock and Montesqieu there were some principles which later on known as the basic principles of human rights, and one of them is the freedom of religion.

Although the term is not known in the sources of Islam, but its meaning to some extent is better explained in the al-Baqarah: 257 and in the all verses of the surah al-Kafirun which I am going to elaborate later. In the meantime, there are also several international documents related to the Decleration of Human Rights in Islam. The First was the out come of the Paris conference in 1974 organized by the Muslim League and the second one was the fruit of the London Conference under the auspices of the Muslim Council of Europe in 1980. And the third one was from the Cairo Meeting of the Organization of Islamic Conference in 1981. Both the United Nations, the United States and the Europeans Principles in one hand and the Islamic Principles in the Paris, London, and Cairo as summarization of the principles of the Qur’an and the Sunnah in another hand are talking about the religious freedom. Though they look similar, but they are actually different in details. The first principles were originated from the human experience and their effort in the Western hemisphere in particular to formulate what they called the religious freedom according to them. On the contrary, the second principles are the divinely principles as revealed by the God Almighty to the Prophet Muhammad (peace be upon him) without any human intervention and believed by the Moslem believers as all truth but truth.

Universal Declaration of Human Rights

This declaration was adopted and proclaimed by General Assembly resolution 217 A (III) of 10 December 1948. Article 2 said:

Everyone is entitled to all the rights and freedoms set forth in this Declaration, without distinction of any kind, such as race, colour, sex, language, religion, political or other opinion, national or social origin, property, birth or other status. Furthermore, no distinction shall be made on the basis of the political, jurisdictional or international status of the country or territory to which a person belongs, whether it be independent, trust, non-self-governing or under any other limitation of sovereignty.[1]

Declaration on the Elimination of All Forms of Intolerance and of Discrimination Based on Religion or Belief[2]

It was proclaimed by General Assembly resolution 36/55 of 25 November 1981

The General Assembly,

Considering that one of the basic principles of the Charter of the United Nations is that of the dignity and equality inherent in all human beings, and that all Member States have pledged themselves to take joint and separate action in co-operation with the Organization to promote and encourage universal respect for and observance of human rights and fundamental freedoms for all, without distinction as to race, sex, language or religion,

Considering that the Universal Declaration of Human Rights and the International Covenants on Human Rights proclaim the principles of non-discrimination and equality before the law and the right to freedom of thought, conscience, religion and belief,

Considering that the disregard and infringement of human rights and fundamental freedoms, in particular of the right to freedom of thought, conscience, religion or whatever belief, have brought, directly or indirectly, wars and great suffering to mankind, especially where they serve as a means of foreign interference in the internal affairs of other States and amount to kindling hatred between peoples and nations,

Considering that religion or belief, for anyone who professes either, is one of the fundamental elements in his conception of life and that freedom of religion or belief should be fully respected and guaranteed,

Considering that it is essential to promote understanding, tolerance and respect in matters relating to freedom of religion and belief and to ensure that the use of religion or belief for ends inconsistent with the Charter of the United Nations, other relevant instruments of the United Nations and the purposes and principles of the present Declaration is inadmissible,

Convinced that freedom of religion and belief should also contribute to the attainment of the goals of world peace, social justice and friendship among peoples and to the elimination of ideologies or practices of colonialism and racial discrimination,

Noting with satisfaction the adoption of several, and the coming into force of some, conventions, under the aegis of the United Nations and of the specialized agencies, for the elimination of various forms of discrimination,

Concerned by manifestations of intolerance and by the existence of discrimination in matters of religion or belief still in evidence in some areas of the world,

Resolved to adopt all necessary measures for the speedy elimination of such intolerance in all its forms and manifestations and to prevent and combat discrimination on the ground of religion or belief,

Proclaims this Declaration on the Elimination of All Forms of Intolerance and of Discrimination Based on Religion or Belief:

Article 1

  1. Everyone shall have the right to freedom of thought, conscience and religion. This right shall include freedom to have a religion or whatever belief of his choice, and freedom, either individually or in community with others and in public or private, to manifest his religion or belief in worship, observance, practice and teaching.

  1. No one shall be subject to coercion which would impair his freedom to have a religion or belief of his choice.

  1. Freedom to manifest one's religion or belief may be subject only to such limitations as are prescribed by law and are necessary to protect public safety, order, health or morals or the fundamental rights and freedoms of others.

Article 2

  1. No one shall be subject to discrimination by any State, institution, group of persons, or person on the grounds of religion or other belief.

  1. For the purposes of the present Declaration, the expression "intolerance and discrimination based on religion or belief" means any distinction, exclusion, restriction or preference based on religion or belief and having as its purpose or as its effect nullification or impairment of the recognition, enjoyment or exercise of human rights and fundamental freedoms on an equal basis.

Article 3

Discrimination between human beings on the grounds of religion or belief constitutes an affront to human dignity and a disavowal of the principles of the Charter of the United Nations, and shall be condemned as a violation of the human rights and fundamental freedoms proclaimed in the Universal Declaration of Human Rights and enunciated in detail in the International Covenants on Human Rights, and as an obstacle to friendly and peaceful relations between nations.

Article 4

1. All States shall take effective measures to prevent and eliminate discrimination on the grounds of religion or belief in the recognition, exercise and enjoyment of human rights and fundamental freedoms in all fields of civil, economic, political, social and cultural life.

2. All States shall make all efforts to enact or rescind legislation where necessary to prohibit any such discrimination, and to take all appropriate measures to combat intolerance on the grounds of religion or other beliefs in this matter.

Article 5

  1. The parents or, as the case may be, the legal guardians of the child have the right to organize the life within the family in accordance with their religion or belief and bearing in mind the moral education in which they believe the child should be brought up.

  1. Every child shall enjoy the right to have access to education in the matter of religion or belief in accordance with the wishes of his parents or, as the case may be, legal guardians, and shall not be compelled to receive teaching on religion or belief against the wishes of his parents or legal guardians, the best interests of the child being the guiding principle.
  2. The child shall be protected from any form of discrimination on the ground of religion or belief. He shall be brought up in a spirit of understanding, tolerance, friendship among peoples, peace and universal brotherhood, respect for freedom of religion or belief of others, and in full consciousness that his energy and talents should be devoted to the service of his fellow men.

  1. In the case of a child who is not under the care either of his parents or of legal guardians, due account shall be taken of their expressed wishes or of any other proof of their wishes in the matter of religion or belief, the best interests of the child being the guiding principle.

  1. Practices of a religion or belief in which a child is brought up must not be injurious to his physical or mental health or to his full development, taking into account article 1, paragraph 3, of the present Declaration.

Article 6

In accordance with article 1 of the present Declaration, and subject to the provisions of article 1, paragraph 3, the right to freedom of thought, conscience, religion or belief shall include, inter alia , the following freedoms:

  1. To worship or assemble in connection with a religion or belief, and to establish and maintain places for these purposes;
  2. To establish and maintain appropriate charitable or humanitarian institutions;
  3. To make, acquire and use to an adequate extent the necessary articles and materials related to the rites or customs of a religion or belief;
  4. To write, issue and disseminate relevant publications in these areas;
  5. To teach a religion or belief in places suitable for these purposes;
  6. To solicit and receive voluntary financial and other contributions from individuals and institutions;
  7. To train, appoint, elect or designate by succession appropriate leaders called for by the requirements and standards of any religion or belief;
  8. To observe days of rest and to celebrate holidays and ceremonies in accordance with the precepts of one's religion or belief;
  9. To establish and maintain communications with individuals and communities in matters of religion and belief at the national and international levels.

Article 7

The rights and freedoms set forth in the present Declaration shall be accorded in national legislation in such a manner that everyone shall be able to avail himself of such rights and freedoms in practice.

Article 8

Nothing in the present Declaration shall be construed as restricting or derogating from any right defined in the Universal Declaration of Human Rights and the International Covenants on Human Rights.

Paris Conference on November 2, 1974

In a document entitled “The Survey on Human Right in Islam and in Saudi Arabia” it was stated in point (e) that: “Religious Freedom to everyone, and prohibition of any compulsion in this subject.”[3]

London Conference, 12 to 15 April 1980

In a document entitled “Islamic Declaration of Human Rights” is stated in the point XIII on Right to Freedom of Religion that “Every person has the right to freedom of conscience and worship in accordance with his religious beliefs.”[4]

The Cairo Declaration of Human Rights in Islam

The Declaration was adopted and issued at the Nineteenth Islamic Conference of Foreign Ministers in Cairo on 5 August 1990.

Article I of the Declaration said:

a. All human beings form one family whose members are united by submission to God and descent from Adam. All men are equal in terms of basic human dignity and basic obligations and responsibilities, without any discrimination on the grounds of race, colour, language, sex, religious belief, political affiliation, social status or other considerations. True faith is the guarantee for enhancing such dignity along the path to human perfection.

b. All human beings are God’s subjects, and the most loved by him are those who are most useful to the rest of His subjects, and no one has superiority over another except on the basis of piety and good deeds.

Article 10 said:

Islam is the religion of unspoiled nature. It is prohibited to exercise any form of compulsion on man or to exploit his poverty or ignorance in order to convert him to another religion or to atheism.

Al-Baqarah 256

Let there be no compulsion in religion. Truth stand out clear from error. Whoever rejects evil and believe in Allah hath grasped the most truthworthy handhold, that never breaks.

‘Abdullah Yusuf ‘Ali commented on this verse by sayng:

“Compulsion is incompatible to religion because (1) religion depends upon faith and will, and these would be meaningless if induced by force; (2) Truth and error have been so clearly shown up by the mercy of Allah that there should be no doubt in the minds of any persons of good will as to the fundamental of faith; (3) Allah’s protection is continuous, and His Plan is always to lead us from the depths of darkness into clearer lights.”[5]

A Medinan Muslim from Bani Salim bin ‘Auf, called al Hussein, had two Christian sons. He asked The Prophet Muhammad (peace be upon Him) whether he should force them to become Muslim. Answering this question, the above verse was revealed to the Prophet.[6]

When the Jewish tribes of Qainuqa and Nadir were expelled from Medina because of their enmity with Muslims during the time of the Prophet, they took with them some Muslim children from the Ansar who were in their charge before. Their parents asked the Prophet’s permission to take their children back and raise them as Muslims, but the Prophet said Let there be no compulsion in religion. The prophet’s words mean “Let them go with their foster parents and grow up in their religion (Judaism).”[7]

At-Tawbah 29

[ight those who believe not to Allah nor the Last Day, nor hold that forbidden which hath been forbidden by Allah and His Messanger, nor acknowledge the religion of truth, from among the people of the book, until they pay jizyah with willing submission and feel themselves subdued.

According to Fathi Osman,[8] the above verse cannot be understood as a license to fight people who may have the character as mentioned above, and it was applied only in the Arabian Peninsula during the life of the Prophet. Taking it as a general rule that authorizes Muslims to fight all peoples of the world until they accept Islam or pay jizya cannot be concluded from the Quranic text. It may have been a historical practice in certain circumstances, but it cannot be a permanent law based on the Quran.

All the early Muslim documents and practices indicated explicitly that the payment of jizya itself was taken in return for protection and defense. As the reliable Muslim historians al-Baladhari [d. 279 A.H./892 C.E.] and al-Tabari [d. 310 A.H./992 C.E.] reported, that jizya was considered as a cost of defense paid by those who did not want to participate in it. Meanwhile in a modern state where the concept of equal citizenship with equality in all rights and obligations is applied to all citizens, such an exemption of military service or the restriction of its responsibility and honor to a certain group of people is not in question at the moment. To day, non-Muslim citizens in an Islamic state are equal to Muslims in their rights and obligations, and they are are enjoying human rights previlages.

Surah al-Kafirun:

Say: O ye that reject faith! I worship not that which ye worship, nor will ye worship that which I worship. And I will not worship that which ye have been wont to worship, nor will ye worship that which I worship. To you be your way, and to me mine.

‘Abdullah Yusuf ‘Ali commented these verses:

“Faith is a matter of personal conviction, and does not depend on worldly motives. Worship should depend on pure and sincere Faith, but often does not: for motives of worldly gain, ancestral custom, social conventions or imitative instincts, or a lethargic instinct to shrink from enquiring into the real significance of solemn acts and the motives behind them, reduce a great deal of the world’s worship to sin, selfishness, or futility. Symbolic idols may themselves be merely instruments for safeguarding the privileges of a selfish priestly class, or the ambitions, greed, or lust of private individuals. Hence the insistence of Islam and its Teacher on the pure worship of the One True God. The Prophet firmly resisted all appeals to worldly motives, and stood firm to his Message of eternal Unity.”[9]

&



Ò Presented at an International Workship on Teaching Human Rights, Faculty of Sharia and Law, State Islamic University “Syarif Hidayatullah” Jakarta, Wenesday, April 18, 2007.

[1] http\\www.un.org/Overview/rights.html.

[2] http\\www.ohchr.org/English/law/religion.htm.

[3] Ministery of Justice-Riyad and Dar al-Kitab al-Lubnani, Conferences of Riyad, Paris, Vatican City, Geneva and Strasbourg on Moslem Doctrine and Human Rights in Islam, n.d., p. 157,

[4] http\\www.alhewar.com/ISLAMDECL.html.

[5]‘Abdullah Yusuf ‘Ali, The Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary (Bremtwwpd. Maryland: Amana Corporation, 1989), p. 106.

[6] Muhammad Husein al Hamshi, Tafsirun wa Bayanun Mufradaati al-Qurán. Beirut: Muassasah al-Iman. ND. P. 86.

[7] N.K. Singh et.al. (eds.), Encyclopedia of the Qur’an, Vol 2 (Delhi: Global Vision Publishing House, 2000), p. 427.

[8] Fathi Osman, Concepst of the Quran: A Topical Reasing (Kuala Lumpur: Angkatan Belia Muslim, 1997), p. 941

[9] ‘Abdullah Yusuf ‘Ali, ibid., p. 1800.