Tuesday, February 16, 2010

Bisnis Syariah di Indonesia

Bisnis Syariah di Indonesia

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jangan kalian memakan harta kalian di antara kalian berdasarkan kebatilan kecuali merupakan tijarah (perdagangan) berdasarkan kerelaan dari kalian.” (an-Nisa’ 29(

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila shalat telah selesai dilakukan, maka bersebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah.” (al-Jum’ah 10)

( التاجر الأمين الصدوق مع النبيين و الصديقين و الشهداء)

“Pedagang terpercaya yang jujur, tempat mereka di akhirat bersama para nabi, orang jujur dan syuhada’.” Hadits riwayat at-Tarmidzi

Bisnis

Bisnis berasal dari kata Inggeris business, Sebuah bisnis, disebut juga firm (firma) atau enterprise (perusahaan), adalah sebuah organisasi yang diakui secara hukum dirancang untuk menyediakan barang-barang dan pelayanan untuk konsumen.

Bisnis pada dasarnya adalah ekonomi kapitalis yang dimiliki oleh individu dan dibentuk untuk mendapatkan keuntungan yang akan menambah kekayaan pemiliknya dan menumbuhkan bisnis itu sendiri. Pemilik dan pelaksana bisnis memiliki sebuah tujuan utama yaitu menerima atau mengembangkan keuntungan finansial sebagai imbalan kerja dan menanggung resiko.

Kata ‘bisnis’ secara etimologi berhubungan dengan keadaan busy (sibuk), apakah sebagai seorang individu atau sebagai masyarakat secara keseluruhan, melakukan pekerjaan yang praktis dan menguntungkan secara finansial.

Jenis-jenis bisnis

Bisnis dapat digolongkan antara lain kepada:

1. Bisnis pertanian (agriculture) dan pertambangan (mining) yang berhubungan dengan produksi bahan mentah seperti tanaman atau mineral.

2. Bisnis finansial, termasuk bank dan perusahaan-perusahaan lain yang menghasilkan keuntungan melalui investasi dan manajemen modal.

3. Bisnis informasi yang melahirkan keuntungan terutama sekali dari penjualan kembali, hak milik intelektual (intellectual property), termasuk studio-studio film, penerbit, perusahaan-perusahaan perangkat lunak.

4. Pabrik-pabrik yang menghasilkan produk dari bahan-bahan baku atau komponen-komponen yang mereka jual, lalu mendatangkan hasil.

5. Bisnis perumahan yang menghasilkan keuntungan dari penjualan, penyewaan dan pembangunan properti, rumah-rumah dan gedung-gedung.

6. Pekerjaan pengecer dan distributor sebagai perantara dalam mendapatkan barang-barang yang dihasilkan oleh pabrik untuk dikirim kepada konsumen yang menghasilkan uang karena kegiatan penjualan dan distribusi pelayanan.

7. Bisnis pelayanan menawarkan barang atau jasa dan biasanya melahirkan keuntungan dengan membebankan biaya untuk jasa.

8. Bisnis transportasi yang mengantarkan barang-barang atau individu dari satu lokasi ke lokasi lain, menghasilkan uang dari keuntungan ongkos transportasi.

9. Prasarana yang menghasilkan pelayanan publik seperti listrik, pengolahan sampah yang biasanya dikuasai oleh pemerintah.

Bisnis Syariah

Bisnis adalah dunia usaha, yaitu usaha apa saja yang dilakukan oleh individu atau kelompok baik skala kecil maupun skala besar, yang mendatangkan keuntungan kepada pemilik dan pengusahanya. Sedangkan bisnis syariah adalah dunia usaha yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Dengan kata lain, bisnis syariah adalah usaha bisnis yang dilakukan secara profesional untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya tetapi dengan memperhatikan prinsip-prinsip halal-haram.

Prinsip-prinsip tersebut menyangkut pelarangan riba, pelaksanaan jual beli (trade and commerce), pencegahan gharar (ambiguities) dalam perjanjian bisnis, pelarangan maisir (gambling), pelarangan melakukan bisnis yang melibatkan komiditi seperti daging babi, minuman keras, pornografi dan lain-lain.

Tijarah

Bisnis dalam kajin fiqh disebut tijarah (perdanganan). Tijarah “adalah penukaran harta melalui jual-beli untuk tujuan mendapatkan keuntungan.” (تقليب المال أى باليع و الشراء لغرض الربح ) Perdagangan adalah kegiatan ekonomi yang sah secara Islam bila dilakukan dengan cara yang halal.

Tijarah juga dikenal dengan nama al-bay’ (jual beli), “yaitu penukaran harta dengan harta untuk tujuan memiliki dan menguasainya.” ( مبادلة مال بمال تمليكا و تملكا). Keduanya adalah penukaran harta dengan harta, tetapi pada tijarah, penekanan adalah pada mendapatkan keuntungan, walaupun dalam kenyataan tidak selalu mendapatkan keuntungan.

Tijarah Terlarang

1. Bila dilakukan untuk tujun penipuan, manipulasi dan iklan yang bohong. Sabda Rasul: ( إن التجار يبعثون يوم القيامة فجارا إلا من اتقى و بر و صدق) “Para pedagang dibangkit pada hari kiamat sebagai orang fujjar (jahat) kecuali orang yang bertaqwa, melakukan kebaikan dan bersikap jujur.” Hadits riwayat at-Tarmidzi.

2. Juga terlarang, jual beli yang dilakukan sebelum memasuki pasar dan dengan harga di bawah pasar.

3. Juga terlarang, perdagangan monopoli.

4. Juga dilarang, membeli barang yang sedang ditawar oleh orang lain dengan harga melebihi harga penawaran.

5. Juga terlarang melakukan perdagangan dengan negara musuh.

Dewan Pengawas Syariah

Untuk memastikan sebuah bisnis syariah sesuai dengan prinsip syariah, maka di Idonesia telah dibentuk Badan Pengawas Syariah, antara lain melalui Undang-Undang No. 40/2007 Tentang Perseroang Terbatas dan Undang-Undang No. 21/2008Tentang Perbankan Syariah.

Pasal 109 UU No. 40/2007 menyatakan:

(1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah selain mempunyai Dewan Komisaris wajib mempunyai Dewan Pengawas Syariah.

(2) Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas seorang ahli syariah atau lebih yang diangkat oleh RUPS atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia.

(3) Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas memberikan nasihat dan saran kepada Direksi serta mengawasi kegiatan Perseroan agar sesuai dengan prinsip syariah.

Pasal 32 UU N0. 21/2008 menyatakan:

(1) Dewan Pengawas Syariah wajib dibentuk di Bank Syariah dan Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS.

(2) Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia.

(3) Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas memberikan nasihat dan saran kepada direksi serta mengawasi kegiatan Bank agar sesuai dengan Prinsip Syariah.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia. -=®=-

No comments:

Post a Comment