Tuesday, February 16, 2010

Buya Hamka Yang Saya Kenal

Buya Hamka Yang Saya Kenal

Oleh Dr. Rifyal Ka’bah[1]

Beliau adalah Abdul Malik putera Karim Amarullah, lahir pada 17 Februari 1908 di Meninjau, Sumatera Barat dan meninggal dunia pada 24 Juli 1981 di Jakarta. Beliau menunaikan haji dengan cara yang unik, lalu setelah jadi pengarang, beliau memperkenalkan diri sebagai Hamka atau Haji Abdul Karim Amarullah.

Beliau adalah seorang guru yang dekat dengan masyarakat. Begitu dekat di hati para penggemar, beliau dipanggil Buya, dari kata Arab abuya, ayahku. Kata lain untuk ayahku adalah abi, tetapi kata abuya lebih melekat di hati karena merupakan panggilan akrab, lalu dalam dialek lokal menjadi buya. Kata ini menunjukkan kebapaan dan sekaligus kewibawaan, kesungguhan dan kealiman. Tidak semua orang alim dipanggil Buya di Sumatera Barat kecuali yang sudah menyatu dengan masyarakat sehingga dianggap sebagai keluarga sendiri, sebagai abuya, ayahku.

Perkenalan Melalui Karya

Hamka, nama ini pertama-tama saya kenal melalui karya-karya beliau, majalah Panji Masyarakat dan cerita masyarakat. Khusus novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck mengingatkan saya dengan kota Padang Panjang yang menjadi kata kunci novel ini. Di kota inilah saya mulai membaca majalah Panji Masyarakat dan beberapa karya beliau seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tasauf Modern dan lain-lain. Padang Panjanglah yang mempertemukan Zainuddin dan Hayati, dua tokoh sentral dalam cerita tersebut. Di sini ada Surau Jembatan Besi atau Sumatera Thawalib, Lubuak Mata Kuciang, Kauman, desa Batipuh, danau Singkarak, batang Ombilin, Merapi, Singgalang dan lain-lain yang selalu di sebut-sebut Hamka baik dalam novel tersebut maupun dalam buku-buku beliau yang lain, tempat di mana beliau dibesarkan dan menjalani masa muda. Buya sendiri mengakui tentang latar belakang karya ini: ". . . Di dalam usia 31 tahun (1938), masa darah muda masih cepat alirannya dalam diri, dan khayal serta sentimen masih memenuhi jiwa, pada waktu itulah 'ilham' Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini mula kususun dan dimuat berturut-turut dalam majalah yang kupimpin.”

Tempat-tempat yang disebut-sebut Buya saya ketahui dengan baik karena saya pernah menuntut ilmu di kota hujan ini. Saya kadang-kadang merasa seolah-olah menapak tilas perjalanan tokoh-tokoh Tenggelamnya Kapal van der Wijck, yang saya bayangkan identik dengan sebagian perjalanan hidup Hamka. Saya pernah bertanya kepada beberapa orang kontemporer Hamka di Padang Panjang dan Batipuh tentang masa muda beliau, salah seorang dari mereka memberikan jawaban bahwa ia kenal dengan pribadi Hayati (yang dikenal dengan nama lain) di Batipuh yang pernah dekat di hati Buya.

Al-kisah, sewaktu Hayati yang selamat dari kecelakaan kapal Van der Wijck, wanita ini sempat dipertemukan dengan Zainuddin di rumahnya di Surabaya. Hati Hayati saat itu sendang gunda gulana karena baru saja ditimpa musibah kapal tenggelam dan ditinggal suaminya. Sementara itu, Zainuddin tidak lagi Zainuddin kurang beruntung yang dikenal Hayati semasa di Padang Panjang, tetapi telah menjadi pengarang terkenal dengan buku-buku tebal hasil karyanya yang terpampang di lemari tamu. Dalam gambaran saya, Zainuddin tidak lain adalah Buya Hamka yang kemudian terkenal sebagai seorang pengarang dan penulis terkenal. Menurut Buya ada orang berkomentar: "Seakan-akan tuan menceritakan nasibku sendiri." Ada pula yang berkata: "Barangkali tuan sendiri yang tuan ceritakan . . ."

Di masa remaja saya, sewaktu membaca novel itu, saya berangan-angan ingin menjadi Zainuddin, pengarang terkenal tersebut. Alangkah bahagia Zainuddin yang berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian (bersakit-sakit terlebih dahulu, bersenang-senang kemudian).

Di Jakarta

Di awal tahun tujuh puluhan saya ke Jakarta dan tinggal di daerah sekitar Radio Dalam. Saya mulai sering bertemu dengan Buya di Masjid Agung al-Azhar melalui shalat jama`ah, shalat Jum`at atau shalat hari raya dan perjumpaan-perjumpaan lain. Sekali waktu, sekitar bulan Agustus atau September 1973, saya menemui beliau di rumah Jalan Sisingamangaraja, mohon nasehat beliau karena saya akan berangkat ke Mesir melanjutkan pelajaran. Waktu itu beliau baru saja ditemani ummi baru karena ummi lama sudah lama meninggalkan beliau. Waktu itu beliau kelihatan happy. Beliau antara lain menyinggung bahwa ini adalah keinginan anak-anak dan beliau tahu bahwa peran ummi yang telah pergi selamanya tidak akan mungkin digantikan oleh siapa pun.

Di pertemuan itu dalam benak saya terbayang Hamka penyandang gelar doctor honorius causa dari Universitas al-Azhar pada tahun 1954 yang telah berusia seribu tahun, lebih tua dari Universitas Oxford di Inggeris dan Universitas Sorbonne di Perancis. Gelar kehormatan yang sama kemudian juga beliau peroleh dari Universiti Kebangsaan Malaysia pada tahun 1974. Saya merenung, beliau yang menjadi alim melalui pengalaman dan otodidak menerima penghormatan tertinggi berupa ad-dukturah al-fakhriyyah. Beliau sebelum ke al-Azhar sudah tersohor alim dan ke sana seolah-olah hanya menerima stempel, tetapi saya baru akan mulai dari bawah dan perjalanan masih panjang. Inilah inti kekhawatiran yang saya keluhkan kepada Buya. Beliau mengatakan dengan senyum khas orang tua bahwa tidak akan lari gunung dikejar dan apabila sudah bertekad, berserah dirilah kepada Allah. Nasehat beliau memang nasehat buya, petatah petitih seorang ayah, yang sangat menyejukkan di hati.

Setahu saya baru dua orang Indonesia yang menerima kehormatan mendapat gelar doctor honorius causa dari Universitas al-Azhar, yaitu beliau sendiri dan Presiden Soekarno yang telah menjebloskan beliau ke penjara dari tahun 1964 sampai 1966. Dua pribadi yang sangat berbeda. Buya dianugerahkan gelar ini sudah pasti karena keulamaan dan kesastrawanan beliau yang sangat terkenal di Indonesia, berbeda dengan Soekarno yang mendapatkannya karena faktor politik. Soekarno adalah teman akrab Gamal Abdul Nasser dalam persaudaraan negara-negara non-blok yang cenderung kepada sosialisme komunisme. Dari cerita-cerita lama di Mesir saya mendengar bahwa di siang hari Soekarno mendapatkan gelar doctor honorius causa dalam sebuah acara yang dimulai dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an, pada malam harinya beliau dihibur di hotel berbintang oleh penari perut (oriental dancer) terkenal Nagwa Fuad.

Panji Masyarakat

Pengalaman menulis di Panji Masyarakat bermula ketika Syaikh al-Azhar di Mesir, Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud, berkunjung ke Indonesia pada akhir tahun tujuh puluhan. Syaikh al-Azhar adalah pimpinan tertinggi lima lembaga Islam besar di Mesir yang dikelola al-Azhar. Dalam bahasa Inggeris beliau dipanggil the Grand Shaikh of al-Azhar. Jabatan ini sangat terhormat dalam sejarah Islam di Mesir. Beliau sangat dihormati di dunia Arab dan Islam. Pangkat beliau dalam pemerintahan Mesir sejajar dengan perdana menteri. Sebelumnya, para pendahulu beliau seperti Syaikh asy-Syaltout, Syaikh al-Fahham, dan lain-lain telah berkunjung ke Indonesia. Setiap tamu agung dari al-Azhar pasti tidak meliwatkan untuk berkunjung ke Masjid al-Azhar di Kebayoran Baru. Syaikh Abdul Halim Mahmud kali ini memang berkunjung ke masjid al-Azhar dan di sini beliau antara lain diterima oleh imam akbarnya, yaitu Buya Hamka. Para pejabat Mesir biasanya senang bila ada lembaga lain di luar Mesir yang mencontoh lembaga yang ada di negara mereka.

Memang antara al-Azhar di Kebayoran Baru dan al-Azhar di Darrasah di Cairo tidak ada hubungan organisatoris, tapi paling tidak keduanya bermula dari masjid sebagai tempat shalat, lalu berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam. Nama al-Azhar itu agaknya memang berasal dari al-Azhar di Mesir. Al-Azhar yang lahir belakangan pasti meniru yang lahir terlebih dahulu. Hal ini pernah saya tanyakan ke Buya, beliau sepertinya mengiyakan. Hanya dalam penulisan kata al-Azhar dalam tulisan Arab ada perbedaan. Al-Azhar di Kebayaron Baru ditulis dengan alim-lam-hamzah-zay-ha’-alif-ra’ [ ] dan al-Azhar di Cairo ditulis dengan alim-lam-hamzah-zay-ha’-ra’ [ ], tanpa alif setelah huruf ha’. Secara bahasa, kedua penulisan itu tidak salah. Keduanya adalah kata jamak zahrah (bunga) tetapi penulisan al-azhaar (a kedua panjang) tidak lazim digunakan. Ini mengingatkan kita akan kata Thawalib atau Madrasah Thawalib di Sumatera Barat. Konon kata thawalib adalah salah satu bentuk jamak dari thalib (pelajar, mahasiswa), tetapi dalam bahasa Arab yang terpakai kata jamak thalib adalah thullab atau thalabah atau thalibat (mahasiswi) dan bukan thawalib. Kata al-azhar di Kebayoran Baru dan kata thawalib untuk beberapa madrasah terkenal di Sumatera Barat jelas merupakan salah satu bentuk innovasi dalam bahasa Arab dari orang yang bahasa Arab bukan bahasa ibunya, tetapi di luar kelaziman. Saya berkesimpulan, kedua kata itu pasti ciptaan orang alim asal Sumatera Barat.

Pendek kata, dalam rombongan Syaikh Abdul Halim ada seorang dosen al-Azhar bernama Dr. Rauf Syalabi yang pernah bertugas mengajar di Palembang dan Malaysia atas biaya al-Azhar. Beliau kemudian menjadi pembimbing tesis saya di Mesir dan memberi kesan khusus kepada saya yang saya ceritakan dalam buku Belajar Dari Mesir. Beliau lancar berbahasa Indonesia. Rauf Syalabi kemudian menulis sebuah reportase tentang perjalanan Syaikh Abdul Halim Mahmud ke Indonesia dan diterbitkan dalam majalah resmi al-Azhar yang terbit di Cairo. Reportase orang Mesir tentang Indonesia biasanya kurang pas karena mereka tidak bisa berbahasa Indonesia, Sumber satu-satunya adalah dari beberapa rujukan terbatas yang ditulis orang asing tentang Indonesia. Reportase Rauf Syalafi cukup bagus karena beliau membaca banyak tentang Indonesia dalam bahasa Indonesia. Reportase itu kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan saya kirim melalui pos kepada Buya Hamka sebagai Penanggungjawab Panji Masyarakat. Tulisan tersebut mendapat perhatian dari beliau, lalu terbit di Panji Masyarakat. Redaksi mengucapkan terima kasih dan meminta saya untuk mengirim tulisan yang lain, baik terjemah maupun karangan sendiri. Permintaan itu saya penuhi. Honorarium tulisan pun mulai mengalir. Walaupun tidak banyak dibanding dengan biaya hidup di Mesir, saya tetap bersyukur karena saya telah diberi kesempatan untuk menulis hal-hal yang menjadi perhatian saya dan membina hubungan dengan Buya melalui Panji Masyarakat. Buya senang dan saya juga senang. Akhirnya saya menjadi koresponden majalah Panji Masyarakat untuk Mesir dan negara-negara Timur Tengah.

Di Mesir

Semasa saya tinggal di Mesir, seingat saya, dua kali Buya berkunjung ke negeri ini. Saya tidak ingat lagi tanggal yang pas. Itu terjadi di akhir-akhur tahun tujuhpuluhan. Ada beberapa kesan yang sempat saya catat dari dua kunjungan ini. Pertama adalah pertemuan beliau dengan the Grand Shaikh of al-Azhar, pimpinan tertinggi lembaga al-Azhar. Kedua adalah acara santai beliau melihat obyek-obyek sejarah, menonton film Mesir dan lain-lain. Ketiga adalah soal “salero” mencari masakan khusus Mesir dan juga Indonesia, atau tepatnya masakan Padang di kota padang pasir.

Pertemuan dengan the Grand Shaikh berlangsung di kantor beliau di bilangan Darrasah di komplek lama Universitas al-Azhar. Gedung di mana beliau berkantor, terdiri dari tiga tingkat, tidak terlalu besar, berbeda dari kantor the Grand Shaikh sekarang yang lebih modern dan luas. Beliau diterima dengan keramahtahaman Arab dan basa basi Mesir. Keramahtamahan Arab yang saya maksud adalah jamuan kecil yang dimulai dengan segelas jus segar dan makanan kecil lalu diakhiri dengan minum teh panas yang kental. Dalam keramahtamahan ini, teh adalah sajian terakhir. Dalam ungkapan orang Arab terkenal la syai’ ba’da syay [tidak ada syai’ (sesuatu) setelah syay (teh)]. Bila teh sudah dihidangkan, jangan diharapkan tuan rumah akan menyajikan hidangan lain. Sedangkan basa basi Mesir antara lain adalah pertanyaan berkali-kali tentang apa kabar dan kesehatan sampai akhirnya sang tamu merasa at home. Setelah basa basi dan keramahtamahan ini barulah pembicaraan dimulai. Kata Buya menirukan pepatah Minangkabau, “Rundiang sasudah makan, batanyo salapeh arak” (Berunding setelah makan, dan bertanya setelah hilang letih dari perjalanan).

Di tahun-tahun sekitar kunjangan Buya ke Mesir itu, pers Arab secara umum dan Mesir secara khusus banyak berbicara tentang aktivitas missi Kristen yang merebak di Indonesia. Diceritakan di berbagai koran, majalah dan siaran beberapa stasiun televisi dan radio di Mesir dan dunia Arab bahwa di mana-mana di seluruh persada Nusantara telah berdiri ribuan gereja baru, rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi dan rumah yatim yang disponsori oleh organisasi Gereja. Disebutkan juga bahwa berjuta-juta ummat Islam telah dikristenkan melalui pembagian makanan, bea siswa, pendidikan, pengobatan dan lain-lain. Masalah ini kemudian ditanyakan oleh the Grand Shaikh kepada Buya, apakah betul telah terjadi proses kristenisasi besar-besaran di Indonesia?

Pembicaraan berlangsung dalam bahasa Arab dan sekali-sekali diselang-selangi dengan komentar Buya dalam bahasa Indonesia, lalu diterjemahkan ke bahasa Arab. Sedangkan pembicaraan tuan rumah dalam bahasa Arab tidak perlu diterjemahkan karena Buya memang memahaminya dengan baik.

Buya lalu menjawab pertanyaan the Grand Shaikh. Beliau antara lain menyatakan: “Apa yang disebut kegiatan kristenisasi memang telah terjadi dan itu dilaporkan sendiri oleh media Kristen, antara lain dalam tujuh seri buku dengan judul Benih Yang Tumbuh yang diterbitkan oleh Penerbit Gunung Mulia di Jakarta. Buku-buku ini menjelaskan tentang perkembangan berbagai gereja Protestan di Indonesia sejak awal Orde Baru. Dari buku ini, kemudian Frank Cooly menyarikannya ke dalam bahasa Inggeris dalam sebuah buku berjudul The Growing Seed. Maknanya, seed atau benih yang ditanam oleh para penginjil selama ini sekarang telah tumbuh dengan subur dan membuahkan hasil. Hasilnya adalah penambahan pengikut, pengaruh, kegiatan, dana dan lain-lain. Kemajuan yang diperoleh oleh gereja Katolik juga tidak kurang dari yang diperoleh oleh Gereja Protestan. Bahkan Gereja Pantekosta, Gereja Orthodox dan Gereja Baptis di luar dari PGI dan MAWI lebih agresif lagi dalam menyampaikan missi Kristen sampai ke pelosok-pelosok Indonesia melalui berbagai cara.”

Buya banyak bercerita tentang sebab musabab maraknya kegiatan penginjil di Indonesia. Antara lain adalah faktor kemiskinan, suku-suku terbelakang penganut aliran animisme dan dinamisme, dan status tidak beragama dari mantan-mantan aktivis Partai Komunis Indonesia dan organisasi-organisasi yang bernaung di bawahnya. Mantan aktivis PKI dan simpatisannya tersisih dari masyarakat karena mereka terlibat dalam pemberontakan terhadap Negara. Lalu kalangan Gereja mengulurkan tangan untuk menerima dan membaptis mereka. Faktor keempat adalah bantuan organisasi-organisasi Gereja dari luar negeri yang melihat Indonesia sebagai tanah yang subur untuk penyebaran agama Kristen. Selanjutnya wujud berbagai petinggi Kristen dalam pemerintahan Orde Baru juga ikut bersaham dalam memberikan rasa aman bagi organisasi-organisasi gereja untuk menjalankan kegiatan missi. Lalu setelah berbicara agak panjang, Buya tiba-tiba mengatakan dengan haru: “Qulubuna laysat kalhajar ya fadhilatusy-syaikh!” Mendengar kalimat ini the Grand Shaikh dan para pendamping beliau serta merta tersenyum lebar. Maksudnya, melihat aktivitas missionaris tersebut, kami tidaklah tinggal diam dan “hati kami tidaklah seperti batu, Yang Mulia!” Yang membuat the Grand Syaikh dan para pendamping beliau tersenyum lebar adalah unkapan “hati seperti batu” itu. Itu adalah ungkapan Qur’an yang menyatakan bahwa hati orang yang tidak beriman tak obahnya seperti batu. Kata kebenaran apa pun yang disampaikan kepada mereka, tidak akan pernah diterima. Mereka tidak akan beriman dan menerima kebenaran. Maksud Buya adalah tokoh-tokoh muslim di Indonesia masih termasuk orang beriman yang tidak tinggal diam. Ungkapan itu berasal dari Qur’an tetapi jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari sehingga kedengaran aneh di telinga mereka. Buya telah berhasil mempopulerkan istilah Qur’an kepada orang-orang yang mendalami Qur’an dan menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa Qur’an, bahasa ibu mereka.

Buya menjelaskan kepada tuan rumah bahwa kaum ulama, organisasi dan para aktivis Muslim tidak berdiam diri melihat kegiatan missionaris yang begitu luas. Ummat Islam tidak pernah berhenti membendung kegiatan pemurtadan dengan membina daerah-daerah terpencil, membuka sekolah-sekolah, membangun klinik-klinik dan rumah sakit. Kegiatan para tokoh Islam antara lain juga mengajak kalangan Gereja untuk berdialog dan menghentikan upaya mengkristenkan orang Islam, tetapi sayang sekali, demikian Buya menegaskan, kalangan Gereja memandang aktivitas mereka sebagai missi suci sampai ke ujung bumi, yang tidak dapat dihentikan.

Kesan ini juga beliau sampaikan dalam pertemuan silaturrahim bersama mahasiswa Indonesia di Mesir yang umumnya belajar Islam. Setiap kali ada tokoh Indonesia yang datang ke Mesir, PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) biasanya tidak pernah ketinggalan mengundang tamu untuk acara ramah tamah. Acara biasanya terdiri makan malam, ceramah dan tanya-jawab tentang materi ceramah dan berbagai perkembangan terkini di tanah air. Maklum, jauh dari tanah air, mereka haus informasi. Issu-issu yang menarik pada masa itu, selain kegiatan kristenisasi adalah masalah asas tunggal yang dipaksakan Pemerintah kepada partai-partai dan ormas-ormas Islam, termasuk kepada PPI Mesir, penindasan terhadap kelompok garis keras dan lain-lain. Pertemuan dengan Buya sangat penting bagi para mahasiswa karena beliau terkenal konsisten, netral dan tidak berpihak kepada Pemerintah. Isu kristenisasi sengaja diangkat kembali oleh Buya di hadapan mahasiswa adalah untuk mendapatkan reaksi mereka sebagai calon-calon da`i dan guru masa depan di Indonesia.

Kesan kedua yang menarik dari Buya adalah kegiatan budaya. Beliau antara lain minta ditemani untuk menonton sebuah film Mesir terbaru. Bioskop yang kami pilih adalah Cinema Ramses, sebuah bioskop cukup bagus di Cairo. Lokasinya berdekatan dengan stasiun kereta api Ramses yang menghubungkan ibu kota Medir dengan kota-kota lain di negeri itu. Beliau dalam acara menonton film ini ditemani oleh Rusydi, putera beliau sebagai Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, saya dan seorang teman lagi, sekarang tinggal di Negeri Belanda.

Kami sampai di bioskop lebih kurang 15 menit sebelum acara dimulai. Buya memakai jas, peci dan tongkat. Calon penonton sudah ramai datang, umumnya berusia muda. Saya kira, Buya adalah penonton paling tua sore itu. Melihat seorang bertampang asing dari Asia Tenggara, tua, pakai jenggot, peci dan tongkat, banyak yang berusaha menyapa Buya dengan berbagai pertanyaan. Pertanyaan pertama, min ain? (berasal dari mana?), eh ra’yak ‘an mashr? (apa pendapat anda tentang Mesir), bitakallam ‘arabi (bisa bahasa Arab) dan lain-lain. Semua itu dijawab oleh Buya dengan menggunakan bahasa Arab fushhah (standard). Jawaban beliau menarik perhatian beberapa anak muda yang berdiri di situ. Bahasa Arab fushhah adalah lingua franca semua negara Arab, termasuk bahasa resmi Mesir, tetapi bahasa ini hanya dipakai dalam membaca warta berita di tv atau radio, pidato resmi pakai teks atau khuthbah Jum’at. Di luar itu, orang Mesir menggunakan bahasa Arab Mesir berdasarkan dialek setempat. Karena itu, orang biasa yang tidak terlalu terdidik biasanya jarang menggunakan bahasa Arab standard. Sekarang seorang kakek tua berbicara dengan sangat lancar kepada mereka dengan bahasa standard tersebut.

Waktu tayang pun datang. Buya dengan penuh perhatian memperhatikan jalannya cerita. Kelihatannya beliau sangat menikmati tontonan tersebut. Beliau kadang-kadang bertanya tentang berbagai dialog bahasa Mesir yang ada dalam film itu, tetapi secara umum beliau dapat mengikuti jalannya cerita. Beliau kadang-kadang tersenyum, kadang-kadang memberikan komentar dan kadang-kadang tertawa terbahak-bahak tentang berbagai adegan lucu yang beliau lihat. Lalu sambil tertawa beliau berkomentar “masya Allah, masya Allah. . .” Abang Rusydi yang ada di samping lalu bertanya, “apo tu Buya, kok Buya tagalak-galak?” (Ada apa Buya, kok sampai tertawa-tawa). Beliau menjawab: “Itulah nikmatnyo bahaso Arab. . . Barajalah waang bahaso Arab supayo bisa samo-samo galak jo Buya!” (Belajarlah bahasa Arab supaya kamu bisa tertawa bersama Buya). Bang Rusydi yang merasa disentil oleh ayahnya hanya senyum kecil. Tak lama kemudian, tontonan selesai dan kami mengantar Buya ke hotel.

Tamu-tamu Indonesia yang berkunjung ke Mesir biasanya diajak oleh Kedutaan atau mahasiswa ke obyek-obyek wisata di Mesir atau ke tempat-tempat khusus yang menjadi perhatian para tamu. Khusus bagi mahasiswa, acara seperti ini mengasyikkan karena dapat ikut perjalanan wisata bil-balasy (gratis) dan makan enak. Maklum nasib mahasiswa di negeri orang.

Mesir adalah sebuah negara wisata yang menarik untuk dikunjungi karena di sini tumbuh dan berkembang empat peradaban besar, yaitu Mesir kuno, Mesir Koptik, Mesir Romawi dan Mesir Islam. Semuanya mempunyai peninggalan sejarah. Sebagai budayawan dan sejarawan, peninggalan-peninggalan berbagai peradaban ini sangat menarik bagi beliau. Beliau berkunjung ke piramida di Giza, citadel atau benteng Salahuddin al-Ayyubi di Qal’ah, masjid Imam Syafi’ie di pinggir kota Cairo, masjid ‘Amru bin ‘Ash sebagai masjid pertama di Afrika dan lain-lain.

Masa-masa ini adalah saat-saat menjelang penyelesaian Tafsir al-Azhar oleh Buya. Berbicara tentang Bani Israel dan Nabi Musa, misalnya, tidak mungkin meninggalkan sejarah Mesir. Bahkan kata Mesir disebut berkali-kali dalam Qur’an. Di sinilah Bani Israel pernah menjadi budak dan bersaham dalam pembangunan monumen-monumen terkenal seperti piramida, pantung Spinx, obelish dan berbagai istana di Luxor. Di sinilah Musa kecil dihanyutkan dalam kotak kayu di singai Nil untuk menghindar dari pembunuhan rezim Fir’aun. Malah Musa sendiri dibesarkan dalam sebuah istana Fir’aun. Di sinilah para tukang sihir Fir’aun sejud kepada Musa, mengaku kalah dengan mu’jizat Musa yang datang dari Allah. Di sinilah Musa membelah laut karena kuasa Allah dan di sini pulalah Qarun yang sombong ditelan bumi. Buya seolah-olah menapak tilas tokoh-tokoh yang disebutkan dalam Qur’an, Taurat dan Injil. Tidak semua tempat ini yang sempat dikungji Buya karena keterbatasan waktu, tetapi setiap kali mengunjungi obyek tertentu, beliau sering berkomentar dengan subhanallah, astaghfirullah dan lain-lain.

Sungai Nil yang melewati kota Cairo tak luput dari perhatian Buya. Penyair Musthafa al-Manfaluthi yang karya-krayanya beliau baca banyak mengambil inspirasi dari sungai ini. Tanpa Nil mungkin tidak akan ada peradaban di Mesir. Sungai inilah yang telah merobah padang pasir menjadi daerah pertanian yang subur di Mesir. Buah-buahan yang disebutkan dalam Qur’an seperti tin, zaitun, karma, anggur, apel, `adas, bawang merah, bawang putih dan lain-lain, semuanya tumbuh di Mesir. Ini belum lagi menyebut buah-buah khatulistiwa seperti mangga dan pisang yang tumbuh di Mesir akhir-akhir ini karena air sungai Nil. Sungai dan laut biasanya menjadi sumber inspirasi bagi para pengarang, dan itu tidak terkecuali bagi Buya Hamka. Beliau merenung, bercerita dan berkomentar tentang tempat-tempat yang beliau kunjungi.

Setahu saya, hanya dua tempat di Mesir beliau menolak untuk berkunjung, Pertama adalah Sahara City tidak jauh dari piramida Giza. Kedua adalah menaiki kapal pesiar di sungai Nil. Semua tamu yang berkunjung ke Mesir jarang yang menolak bila diajak ke dua tempat itu, termasuk rombongan Majelis Ulama Indonesia yang menemai Buya dalam salah satu kunjungan beliau ke Mesir. Inti penolakan adalah karena di dua tempat ini para tamu disuguhi tontonan tari perut (oriental dance). Namanya tari perut, pusat perhatian dalam tarian ini adalah perut yang telanjang, goyang pantat dan goyang dada, yang biasanya dimainkan oleh seorang atau lebih wanita cantik. Konon kabarnya budaya tali perut berasal dari Libanon di zaman Kerajaan Turki Usmani. Ia sudah merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Mesir modern. Misalnya, dalam statu acara pesta perkawinan yang bagus selalu ada pertunjukan tali perut. Begitu membudayanya tarian ini, hampir semua wanita di Mesir bisa melakukannya di tempat umum. Inilah salah satu paradox dalam kebudayaan Mesir yang beragama resmi Islam.

Buya juga menikmati makanan khas Mesir seperti kebab dan burung dara. Kebab adalah sejenis sate, biasanya dari daging kamping muda, dalam porsi kiloan yang dimakan bersama roti dan salad. Pesanan terkecil adalah seperempat kilo dan ini kata orang Mesir adalah porsi makanan kucing. Kata mereka, porsi orang dewasa adalah setengah atau satu kilo. Menurut Buya, beliau sangat suka kebab, tetapi karena sudah tua dan banyak pantangan, beliau hanya memesan merpati bakar. Buya memakannya dengan lahap. Ini suatu yang disenangi dari Buya, Beliuu menghabiskan pesanan beliau, tidak seperti tamu-tamu lain yang sering malu-malu menyantap hidangan porsi besar yang ditawar kepada mereka, pada hal bila sendirian mereka akan menghabiskannya.

“Buya memang gadang salero,” kata Khasyiah Abdul Rasyid Sutan Mansur, keponakan Buya yang tinggal bersama suaminya di Cairo, dalam acara makan bersama di Jalan Teheran, bilangan Dokki. Di sinilah Buya dihidangkan masakan Padang ala padang pasir lengkap dengan rendang, gulai ayam dan sayur mayur. Sambil menikmati santapan, beliau bertanya dengan nada canda kepada tuan rumah, apakah di sini ada gulai cubadak (nangka) dan gulai rabuang,(rebung) yang dijawab dengan tidak oleh tuan rumah. Sekali lagi, saya melihat Buya enjoying his meal.

Di sini beliau sempat menginap. Rumah itu sederhana, tetapi cukup asri karena mempunyai halaman belakang yang luas yang ditanami pohon mangga, jeruk dan lain-lain. Pemandangan cukup teduh dan di pagi atau sore hari kedengaran kicauan burung yang beterbangan di antara pohon-pohon. Beliau berpesan kepada Ibu Khasiah supaya jangan pindah dari rumah ini. Komentar beliau: “Buya senang di sini karena banyak pohon dan ada kicauan burung, mengingatkan Buya dengan kampung halaman dan masa muda. . .”

Di akhir bulan Juli tahun 1981 kami di Cairo menerima berita duka bahwa beliau berpulang ke rahmatullah di rumah sakit Pertamina Jakarta setelah mengalami koma beberapa hari di rumah sakit tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Warga Indonesia di Cairo berduka dan melaksanakan shalat ghaib untuk mendoakan beliau.

Yakarta, 17 Desember 2007



[1] Penulis adalah mantan penulis dan koresponden majalah Panji Masyarat di Mesir dan Timur Tengah, dan sekarang adalah Hakim Agung RI.

No comments:

Post a Comment