Tuesday, February 16, 2010

Resensi Buku Penegakan Syariat Islam Di Indonesia

Jumat, 01 Desember 2006 04:04:23


FIKRAH

KH Husin Naparin Lc MA

Penegakan Syariat Islam Di Indonesia

Mustahilkah Syariat Islam tegak di Indonesia? Penulis tidak ahli dalam bidang hukum. Teman penulis, Rifyal Ka’bah, asli Sumatera Barat yang menghabiskan lebih satu dasawarsa di Mesir, Inggris, Australia dan Singapura, beruntung sempat menggoreskan pena dalam bukunya "Penegakan Syariat Islam Di Indonesia".

Sejak September 2000 dia menjadi Hakim Agung di Mahkamah Agung. Penulis masih ingat bagaimana keuletannya menuntut ilmu di Universitas Al Azhar, Cairo (Lc.1976); Institute of Islamic Studies, Cairo (MA.1984); kemudian Universitas Indonesia, Jakarta (Doktor Ilmu Hukum 1998).

Yang penulis tahu, dia lihai berbahasa Arab, Inggris dan Perancis. Kami sama-sama kursus di American Universitas (Cairo 1974) dan Centre Culturel Francais (Le Caire,1974).

Dia menulis: ....para ahli hukum kita pada umumnya mengatakan bahwa hukum nasional Indonesia pada waktu ini bersumber atau mencerminkan tiga sistem hukum: Barat, Adat dan Islam. Ketiga sistem hukum inilah yang sedang bertarung atau berlebur untuk membentuk suatu hukum nasional yang lebih berciri Indonesia di masa depan.

Dari ketiga sistem hukum ini, hukum Islam mempunyai peluang besar untuk mengisi hukum nasional karena beberapa pertimbangan. Pertama, bila kita sepakat dengan adat sebagai hukum yang berciri Indonesia, ia lebih bersifat kesukuan (ethnicity). Karena itu, hukum adat tidak mencerminkan keadilan, kemanusiaan dan kebersamaan. Hukum adat berpotensi untuk sektarianisme serta disintegrasi bangsa dan dari hari ke hari cenderung ditinggalkan masyarakat seiring dengan berkembangnya arus migrasi, akulturasi dan moderenisasi.

Kedua, hukum Barat sebagai hukum asing menggambarkan sejarah dan norma-norma bangsa Eropa yang belum tentu sejalan dengan pandangan hidup bangsa Indonesia. Selain itu, Hukum Barat zaman kolonial dirancang sebagai bagian dari politik kolonial untuk mempertahankan kekuasaan asing di bumi Nusantara. Dengan meningkatnya rasa kebangsaan di masa depan, maka hukum yang berasal dari Barat akan diterima dengan sangat selektif, hanya bila itu sesuai dengan rasa keadilan dan norma-norma bangsa Indonesia. Sedang hukum Islam mencerminkan norma-norma bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Seperti diakui oleh Daniel Lev,

sebelum Nusantara dipersatukan oleh sebuah Pemerintahan Kolonial Belanda, hukum Islam lebih dulu menyatukan mayoritas rakyat Indonesia.

Segi lain yang memantapkan hukum Islam adalah sifat diyani yang dikandungnya di samping sifat qadha’i karena berasal dari hukum agama yang tidak hanya mengikat manusia sebagai makhluk sosial, tetapi lebih-lebih lagi karena berhubungan dengan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Tinggi. Berdasarkan aturan Tuhan kebaikan dibalas kebaikan dan keburukan dibalas keburukan, baik di dunia maupun di akhirat. Ini merupakan sebuah kenyataan bahwa hukum Islam telah menjadi bagian hukum positif Indonesia.

Faktor lain yang memberi peluang kepada hukum Islam sebagai solusi adalah sanksi hukumnya yang bersifat menjerakan. Ini dapat dilihat dari sanksi kejahatan-kejahatan terhadap jiwa raga, akal, pikiran, keturunan, agama dan harta benda.

Salah satu ciri hukum pidana Islam adalah pembalasan yang setimpal atas kejahatan yang dilakukan dengan pengertian bahwa hilang nyawa harus diganti dengan nyawa (QS.Al Maidah 45,QS Al Baqarah 178) dan permusuhan dibalas dengan permusuhan setimpal (QS.Al Baqarah 194).

Para penjahat akan berpikir seribu kali sebelum melakukan kejahatan. Karena kalau ia membunuh, maka ia juga akan dibunuh melalui proses hukum.

Sanksi atas pidana berat (hudud) akan memberikan rasa takut kepada warga untuk melakukan kejahatan dan sekaligus akan membuat masyarakat menjadi aman.

Karena itu bila dipikirkan dengan mendalam, sanksi berat terhadap pelanggaran berat sebenarnya memberikan kehidupan kepada masyarakat secara umum.

Alquran menyatakan bahwa bagi orang yang mempunyai pemikiran, hukuman qishash memberikan kehidupan (QS.Al Baqarah 179).

Demikian menghabisi seorang penjahat yang menghabisi nyawa orang lain melalui proses hukum, beribu-ribu nyawa dapat diselamatkan dari perbuatan melanggar hukum. (lihat Penegakan Syariat Islam di Indonesia, Dr.Rifyal Ka’bah,MA, ha 40-43). Hidup Syariat Islam.


Copyright © 2003 Banjarmasin Post

No comments:

Post a Comment