Tuesday, December 2, 2014

Alat Transportasi Modern

Alat Transportasi Modern


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal berlayar di lautan yang bermanfaat kepada ummat manusia, air (hujan) yang diturunkan Allah dari langit yang menghidupkan tanah yang mati, semua binatang melata yang Ia sebarluaskan, dan pengarahan angin serta awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, merupakan bukti (kebesaran) Allah bagi bangsa yang berpikir.” al-Baqarah 164

Di zaman Nabi Muhammad s.a.w. di Arabia pada abad keenam Masehi, alat transportasi yang terkenal adalah onta, kuda, keledai dan kapal layar atau perahu. Semuanya disebutkan dalam al-Qur’an.

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
“Kenapa mereka tidak memperhatikan onta bagaimana ia diciptakan?" Al-Ghazyiah 17

وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ

“(Tuhan) yang telah menciptakan segalanya berpasangan, dan Ia-lah yang telah menjadikan untuk kalian kapal dan binatang dapat kalian  kendarai.” az-Zukhruf 12


وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Kuda, bighal (kuda yang lebih kecil) dan keledai adalah untuk kalian kendarai dan menjadi perhiasan, dan Ia menciptakan apa yang tidak kalian ketahui.” an-Nahl 16

 

Allah menciptakan onta, kuda, keledai dan kapal untuk memudahkan kehidupan manusia. Dengan berbagai alat transportasi konvensional ini, jarak yang jauh menjadi dekat dan keletihan berjalan kaki dapat diatasi. Hal-hal yang memberi kemudahan ini di lain pihak menjadi bukti kepedulian Allah kepada para hamba-Nya. Alat-alat transportasi ini juga melahirkan seni dan estetika yang enak dipandang sehingga menjadi perhiasan hidup.

اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Allah-lah yang telah menjdayagunakan laut bagi kalian supaya kapal dapat berlayar dan supaya kalian dapat mencari karunia-Nya dengan harapan semoga kalian menjadi orang yang bersyukur.” al-Jatziyah 12

Menurut sebagian ahli tafsir kontemporer, ayat surah an-Nahl di atas yang berbunyi:

وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“. . . dan Ia menciptakan apa yang tidak kalian ketahui.” an-Nahl 16


memberi isyarat akan adanya alat transportasi selain hewan tunggangan di masa depan yang belum diketahui pada masa Nabi Muhammad s.a.w.
Pada masa sekarang telah terjadi revolusi alat transportasi yang amat dahsyat. Hewan tunggangan dan kapal-kapal tradisional seperti pada masa lalu memang masih tetap digunakan pada masa ini, tetapi kehidupan modern yang menuntut kecepatan dan ketepatan lebih mengandalkan alat transportasi mobil, kereta api, kapal api dan pesawat terbang. Semua adalah karunia Allah yang telah mengilhami para penemu menciptakan alat-alat ini bagi kemudahan hidup. Mobil, kereta api, kapal api dan pesawat terbang tidak pernah tergambarkan di zaman Nabi Muhammad s.a.w., tetapi sekarang merupakan kenyataan sehari-hari.
Alat-alat transportasi ini telah memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada kehidupan manusia dan sekaligus merupakan kepedulian Allah yang amat besar kepada kehidupan manusia modern. Diharapkan agar manusia modern menyadari nikmat hidup tersebut dan menjadi orang yang bersyukur. Bersyukur dalam konteks ajaran ilahi adalah menggunakan nikmat Allah sesuai dengan tujuan apa nikmat tersebut diciptakan. Alat-alat transportasi ini diciptakan untuk memberi kemudahan dan kenikmatan kepada ummat manusia sesuai dengan tuntunan Allah s.w.t. Dengan kata lain, nikmat tersebut digunakan dalam rangka menjauhi godaan setan dan mendekatkan diri kepada Allah Maha Pencipta.
Berkat kemajuan ilmu dan teknologi, mobil, kereta api, kapal api dan pesawat terbang telah sangat memudahkan kehidupan dan memanjakan bangsa manusia. Banyak juga orang yang tergila-gila dengan hasil teknologi sehingga barangkali ada yang lupa bahwa di belakangnya ada tangan-tangan Allah yang bermain. Ilmu dan teknologi adalah di antara karunia Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya apakah mereka akan beriman atau menjadi kafir, apakah akan bersyukur atau tambah membangkang kepada Allah.
Ilmu dan teknologi transportasi memang tidak mengharuskan seseorang beriman dan bersyukur dalam arti formal. Keduanya adalah bebas nilai. Tanpa iman dan syukur, baik para penemu maupun para pemakainya akan tetap eksis dan bahkan mungkin semakin sinis dan sombong kepada Allah sebagai pencipta mereka. Orang-orang seperti ini telah ada sejak dulu dan akan tetap ada sampai hari kiamat. Hidup bagi mereka barangkali tidak lebih dari sekedar mengambil manfaat dari alat-alat yang mereka ciptakan dan gunakan setiap hari.
Di sinilah perbedaan antara pandangan orang yang beriman dan pandangan orang yang tidak beriman. Bagi orang yang tidak beriman, segalnya dimulai dari sini dan diakhiri di sini, di dunia, tetapi bagi orang yang beriman, kehidupan dimulai dari sini di dunia dan berakhir di sana di akhirat.
Ada awal dan ada akhir. Awal adalah kelahiran dan akhir adalah kematian. Awal adalah ketika Allah Yang Maha Awal menciptakan dunia ini dengan maksud-maksud yang jelas dan akhir adalah kehancuran dunia juga dengan maksud-maksud yang jelas. Allah adalah yang pertama dan terakhir, yang tampak dan tidak tampak, dan Ia Tahu akan segala sesuatu (al-Hadid 3). Semuanya tidak diciptakan dengan percuma. Orang beriman hidup dalam kerangka pemikiran seperti ini. Ia akan mengatakan bahwa semua ini tidak diciptakan dengan percuma, dan ia akan berdo‘a semoga dihindarkan dari sika neraka (Al ‘Imran 191). Inilah yang disebut aqidah atau pegangan kokoh yang membuat manusia tegar dalam menjalani hidup ini.
Orang yang tidak beriman sangat percaya kepada ilmu dan teknologi. Katakanlah dalam bentuk alat-alat transportasi modern seperti yang sedang kita bicarakan. Sewaktu mengendarai mobil, menaiki kereta api, berlayar di atas sebuah kapal, atau terbang dalam sebuah pesawat jet, seorang yang tidak beriman akan sangat percaya kepada kemajuan ilmu dan teknologi. Bila terjadi kecelakaan, misalnya, ia akan segera mengatakan bahwa ini adalah human error (kesalahan manusia). Pertanyaan yang patut ditanyakan di sini, ketika kecelakaan terjadi, apakah semuanya karena kelalaian manusia? Bila memang demikian, kenapa kelalaian itu terhadi hanya pada waktu kecelakaan itu saja? Pengalaman menunjukkan bahwa dari sekian banyak kecelakaan alat transportasi di dunia tidak semuanya menunjuk kepada human error. Banyak sekali penyebab kelekaan yang tidak diketahui oleh ilmu manusia, atau dengan kata lain masih bersifat misterius.
Bila kembali kepada pandangan orang beriman, celaka atau selamat bukan semata urusan manusia. Manusia memang harus mengandalkan ilmu dan teknologi dan harus hati-hati dalam mengurus dirinya dalam kehidupan di dunia ini, tetapi di balik itu ada tangan-tangan Allah yang merancang kehidupan manusia. Ia tidak mungkin celaka atau selamat, kecuali bila itu memang dikehendaki oleh Allah Maha Pencipta. Karena itu, setiap kali berpikir, mencipta, bekerja dan berusaha, seorang hamba beriman melakukannya dengan penuh ketelitian dan profesionalisme, dan setelah itu ia menyerah dirinya kepada Allah melalui do‘a, zikir, ibadat dan usaha mendekatkan diri kepada Allah.
Ummat beriman yang bepergian dengan alat transportasi tertentu, baik tradisional maupun modern, diminta untuk hati-hati dan menyerahkan dirinya kepada Allah. Setelah melakukan tugasnya dengan hati-hati dan profesional, ia berdo‘a kepada Allah s.w.t. Bagaimanapun telitinya manusia dan bagaimanapun canggihnya teknologi yang ia ciptakan, segalanya terserah kepada Allah, apakah ia akan diselamatkan atau akan celaka dalam perjalanannya.

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ0 وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
“Maha Suci (Tuhan) yang telah mendayagunakan (kendaraan) ini untuk kita, dan kita tidaklah mendahuli-Nya. Sesungguhnya kita akan kembali kepada Tuhan kita.” Az-Zukhruf 13-14

Di sini orang beriman menyatakan tentang jati dirinya. Ia butuh kepada ilmu dan teknologi canggih untuk memudahkan hidupnya, tetapi ia lebih yakin akan kuasa Allah yang mengilhami lahirnya ilmu dan teknologi tersebut. Ia bersyukur atas karunia Allah, tetapi juga menyadari keterbatasan ciptaan manusia dibanding ciptaan Allah Yang Maha Agung. Ia sadar bahwa sewaktu-waktu bisa terjadi kesalahan ilmu dan kemacetan teknologi. Karena itu, ia menyerah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Apa pun yang teradi, selama daya dan upaya manusia telah dilakukan, adalah atas kehendak Allah s.w.t. Bila ia dalam kondisi seperti ini, apa pun yang terjadi, itulah yang terbaik untuk dirinya seperti dikehendaki oleh Allah Sang Pencipta.


e

No comments:

Post a Comment