Monday, March 16, 2015

Dr. Maurice Bucaille: Dari Memusuhi al-Qur'an Menjadi Pengagumnya.



Dr. Maurice Bucaille: Dari Memusuhi al-Qur'an Menjadi Pengagumnya.*

Oleh Dr. Rifyal Ka'bah, M.A.


Nama Maurice Bucaille saya kenal pertama kali melalui sebuah bukunya  yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan diterbitkan oleh 'Dar al- Ma'arif di Kairo. Buku itu menarik perhatian saya, bukan saja karena ia membicarakan al-Qur'an dari sudut sains modern, terutama ilmu kedokteran, tetapi lebih dari itu karena saya pada saat itu sedang 'keranjingan' belajar bahasa Prancis. Buku tersebut sangat membantu saya membaca naskah aslinya. Saya lalu menerjemahkan beberapa porsi dari buku itu yang berhubungan dengan kedokteran dan diterbitkan oleh sebuah majalah di Jakarta. Ini terjadi sekitar 1978.

Setahun kemudian, yaitu pada pertengahan bulan November, saya berada di Paris untuk suatu urusan akademis. Karena tak seorangpun yang saya kenal di Paris, saya teringat dengan Dr. Bucaille yang saya hanya nama dan melalui bukunya. Saya pun mengirim surat dengan alamat Penerbit Seghers di Paris, penerbit yang menerbitkan bukunya, menerangkan maksud kedatangan saya. Di luar dugaan saya, ia membalas dan menerangkan bahwa ia telah menelpon beberapa instansi untuk melancarkan urusan saya.

Saya sampai di Paris sesuai jadwal. Dari sebuah stasiun 'metro' (kereta api di bawah tanah) berdekatan dengan Masjid Paris, saya menelpon Dr. Bucaille. Maksud saya hanya hendak membuat janji kapan waktu yang tepat saya dapat menemuinya. Tapi mendengar saya di Paris, ia langsung meminta saya untuk datang ke flatnya juga di Marseiles Avenue  Karena tempat itu masih asing bagi saya, saya datang sedikti terlambat, tetapi tidak mengurangi kehangatan sambutannya.

Memasuki ruang kerja di flatnya, objek pertama yang saya lihat adalah potret Raja Faisal dalam ukuran besar dan terpajang di dekat sebuah almari buku. Dalam kata pendahuluan bukunya yang saya baca, ia memang berbicara tentang Raja Faisal yang mengambil prakarsa untuk mempertemukan beberapa petinggi di Vatikan dengan beberapa ulama dari Saudi Arabia. Sungguhpun demikian, saya tidak mengetahui pada waktu itu apa artinya Raja Faisal bagi Dr. Maurice Bucaille.

Ia berterima kasih atas ulasan yang saya buat tentang bukunya di salah satu majalah Indonesia. Walaupun tidak memahaminya, ia mengatakan akan tetap menyimpan kliping yang saya berikan. Ia juga mengatakan baru saja menerima surat dari Prof. Dr. Rasjidi, penerjemah bukunya di Indonesia, yang akan berkunjung pada bulan Desember. Saya menanyakan tentang penerimaan berbagai pihak terhadap bukunya. Menurutnya, sambutan dari ummat Islam sangat luar biasa. Ini terbukti dari terjemahan yang dilakukan oleh ummat Islam ke dalam berbagai bahasa.

Saya tidak jadi meneruskan program yang telah saya pilih karena gagal mendapatkan dukungan finansial, namun saya bersyukur dapat berkenalan dengan Dr. Maurice Bucaille yang telah banyak membantu saya selama saya berada di kotanya. Beberapa bulan kemudian saya tidak lagi mengadakan kontak dengan dokter ahli bedah Prancis ini.

Bulan Desember 1985, saya kembali bertemu dengan Dr. Maurice Bucaille di Indonesia, ketika ia diundang untuk menghadiri Muktamar Muhammadiyah. Kami bertemu di Jokya, Solo dan Jakarta. Bucaille mendapat kesempatan menyampaikan beberapa kali ceramah di ketiga kota di atas. Pada waktu beredar isu-isu, bahwa di samping karya-karyanya yang dipujikan oleh ummat Islam, Bucaille sebenarnya belum lagi menjadi muslim sepenuhnya.

Rupanya, ia sendiri pun mendengar tentang isu-isu itu. Karena itu, ia meminta agar pertanyaan-pertanyaan berhubungan dengan itu jangan ditanyakan kepadanya. Namun seorang guru besar dari Universitas Al-Azhar, Mesir, yang juga diundang dalam kesempatan di atas, menanyakan di depan saya masalah yang sensitif itu. Bucaille tidak menjawab dengan kata-kata, tetapi dengan mengeluarkan kutipan ayat al-Qur'an dari surat Asy-Syura ayat 13 yang telah ditempel rapi pada sebuah kartu kecil seperti KTP dari dalam kantong bajunya. Kutipan, yang dimaksud bahwa agama yang disyari'atkan kepada ummat Islam juga merupakan agama yang dipesankan kepada Rasul-Rasul terdahulu seperti Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan lain-lain itu. Tampaknya sudah disiapkan sebelumnya untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Sebagai seorang alim dari Al-Azhar, guru besar Mesir itu tertawa senang bersama Bucaille setelah membaca kutipan ini.

Saya menceritakan hal itu kepada Dr. Rasjidi. Beliau pun berkeyakinan bahwa Bucaille telah menjadi Muslim sepenuhnya, bukan hanya sekadar kepuasaan ilmiah dan batin seperti diisukan oleh sebagian orang. Namun, kata Dr. Rasjidi, karena keberadaannya setiap hari di lingkungan yang tidak islami, seperti di rumah sakit dan di fakultas kedokteran, barangkali ia tidak ingin dibesar-besarkan sebagai seorang muslim.

Kesan saya tentang Dr. Bucaille timbul kembali setelah membaca akhir-akhir ini pengalaman seorang dokter senior Maroko yang bertemu dengan Bucaille pertama kali pada akhir tahun tujuh puluhan di Paris. Ia adalah Dr. Muhammad T. Al-Hilali dari Casablanca yang menuliskan kesannya dalam periodikal 'Islamic Research Magazine', terbitan Riyadh.

Kesan itu membuka tabir tentang Raja Faisal dalam jalan hidup Dr. Bucaille.

Pertemuan kedua dokter tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan di rumah seorang keluarga 'Murabbithin di Paris. Dr. Al-Hilal menanyakan tentang sebab penulisan buku 'La Bible, le Coran et La Science. Dr. Bucaille menjawab bahwa ia tadinya adalah seorang yang sangat memusuhi al-Qur'an dan Nabi Muhammad. Kepada setiap pasien Muslim yang sembuh yang pernah dirawatnya, ia selalu menanyakan tentang al-Qur'an dan Nabi Muhammad, apakah kitab ini benar berasal dari Allah atau hanya sebagai karangan Muhammad. Ia selalu mengatakan kepada pasien Muslim bahwa Muhammad itu adalah seorang pembohong dan al-Qur'an hanyalah rekaannya sendiri.  Keadaan seperti berlangsung lama, menanyakan persoalan yang sama kepada Raja Saudi Arabia ini. Jawaban Raja Faisal tetap sama dengan jawaban pasien-pasien Muslim yang pernah ia tanya sebelumnya bahwa Muhammad yang pernah ia tanya sebelumnya bahwa Muhammad tidaklah bohong dan al-Qur'an memang berasal dari Allah. Bucaille tetap tidak percaya. Ketika Raja Faisal menanyakan kepadanya apakah telah membaca al-Qur'an, ia mengatakan bahwa telah membacanya, bahkan berkali-kali. Akhirnya berlangsung dialog berikut ini:

Raja Faisal: "Apakah Anda membaca  dalam bahasa aslinya, atau melalui terjemahan?"

Bucaille: "Saya membaca terjemahannya, dan bukan dalam bahasa aslinya."

Faisal: "Kalau begitu Anda mengekor  kepada penerjemah. Penerjemah tidak memilki pengetahuan. Ia tidak meneliti kebenaran, tetapi hanya mempercayai suatu yang disampaikan kepadanya. Penerjemahan tidak kebal terhadap kesalahan dan penyimpangan secara sengaja. Berjanjilah dengan saya bahwa Anda akan mempelajari bahasa Arab dan membaca al-Qur'an dalam bahasa aslinya! Saya berharap keyakinan Anda yang salah ini akan berubah!"

Bucaille: "Saya berjanji! Banyak orang Islam yang telah saya tanya sebelum Baginda, tetapi saya tidak menemukan jawaban pertanyaan saya selain melalui Baginda!"

Bucaille mengatakan bahwa ia meletakkan tangannya di atas di atas tangan Raja dan berjanji tidak akan berbicara tentang al-Qur'an dan Nabi Muhammad kecuali setelah memahami al-Qur'an dalam bahasa Arab. Sejak itu ia langsung menghubungi sebuah universitas besar di Paris untuk mendapatkan seorang guru 'private' bahasa Arab. Ia mendapatkannya. Guru tersebut mengajarkan bahasa Arab selama satu jam setiap hari secara intensif, kecuali Minggu. Akhirnya, setelah pelajaran bahasa Arab sebanyak tujuh ratus tiga puluh pelajaran, lebih kurang dalam dua tahun, Bucaille dapat mendalami al-Qur'an dalam bahasa Arab.

Ia mengatakan: "Saya menemukan al-Qur'an sebagai kitab satu-satunya yang memaksa kaum intelektual untuk meyakini bahwa ia berasal dari Allah, yang tidak ditambah atau dikurangi satu huruf pun...."

Dalam penemuan tersebut hadir seorang dokter muda dari Maroko yang sedang menerima 'training' di Prancis. Ia memberikan komentar tentang ayat 34 surat 'Luqman' yang menyebutkan hal yang hanya diketahui oleh Allah. Ia mengatakan bahwa salah satu dari lima hal tersebut, yaitu bayi yang ada dalam kandungan, telah diketahui hal ihwalnya oleh ilmuwan modern pada saat ini. Mendengar komentar itu, Dr. bucaille langsung bangkit untuk menjawab: "Ini bohong...! Anda menyebut diri sebagai seorang dokter. Ayo, sekarang mengunjungi rumah sakit saya. Saya ingin Anda menceritakan  kepada saya tentang bukti-bukti ilmiah, kalau betul Anda mengetahui?" Mendengar jawaban Bucaille, dokter muda itu terdiam seribu bahasa. Ia sadar telah terlanjur memberikan komentar gegabah. 

Banyak memang sarjana Muslim yang menulis buku dan menemukan sesuatu yang baru tentang hubungan al-Qur'an dan sains modern, namun nama Bucaille mempunyai tempat tersendiri. Hal itu karena ia mempunyai kesempatan yang luas menyampaikan gagasan-gagasannya melalui berbagai ceramah dan seminar internasional, makalah-makalah ilmiah dalam sejumlah publikasi dan buku-buku yang diterjemahkan ke dalam sejumlah besar bahasa; kesempatan yang jarang ditemui selengkap ini oleh sarjana-sarjana lain. Popularitasnya juga karena kenyataan berasal dari latar belakang tradisi Barat/Kristen.

*Tulisan ini dimuat di Koran Harian Republika, Kamis, 1 April 1993.




 

No comments:

Post a Comment